(Cerpen Anak)
Beo Asing
| A |
ku sudah lama ingin memiliki burung beo yang elok dan bisa bicara. Namun, rasanya tidak mungkin, sebab harganya sangat mahal.
Suatu hari, seekor burung beo tertabrak kaca jendela. Ia terkulai di bawah jendela. Dengan mudah aku menangkapnya. Ia bisa mengucapkan “Mat gii!” Kontan saja seisi rumahku sangat senang. Kecuali, ayah. Aku heran!
“Ayah lebih suka jika mendapatkan burung yang belum bisa mengucapkan apa-apa. Kasihan pemiliknya. Melatih burung tidak mudah, lho.” Ucap ayah.
“Tetapi, kita tidak mencuri-kan, Yah?” sanggahku.
“Bagaimanapun pemiliknya semula lebih berhak.”
“Beres, Yah. Akan aku serahkan jika pemiliknya mau mengambil,” ucapku.
“Kau memang anak yang baik,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku.
Suatu siang, seorang lelaki tua datang ke rumahku. Ia mengaku sebagai pemilik burung itu. Aku hendak menyerahkan burung itu, walaupun hati agak berat.
“Tiba-tiba bel rumah dipencet. Seorang pemuda di depan pintu. Ia dipersilakan masuk. Setelah mengamati burung itu, dengan mantap ia mengaku burung itu miliknya. Kontan saja kami kaget.
“Berikan bukti bahwa burung ini milikmu!” pinta ayah.
“Jika ia mampu menyahut, maka ia milikku. Jika tidak, berarti bukan.”
Kemudian, pemuda itu mengulurkan tangan. Burung itu melompat-mendekat.
“How are you?” ucap pemuda itu.
“Fine,” sahut burung beo seraya mengangguk-angguk.
Burung beo itu diserahkan kepada pemuda itu. Dan, pemuda itu memberi kami seekor burung beo muda.*