<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PENULIS</title>
	<atom:link href="http://hasbisalim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hasbisalim.wordpress.com</link>
	<description>Tiada Hari Tanpa Berfikir dan Menulis</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Apr 2008 12:19:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hasbisalim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8f42a1d14756f3eff54be009a783c84b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PENULIS</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kiat Lulus UAN</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/08/kiat-lulus-uan/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/08/kiat-lulus-uan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 12:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Drs. H. M. Hasbi Salim*
*Guru SMAN 1 Amuntai dan tenaga edukatif STIQ, STIA, STIPER Amuntai
 
Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, hanya dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=18&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" dir="ltr" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh : Drs. H. M. Hasbi Salim*</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" dir="ltr" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">*Guru SMAN 1 Amuntai dan tenaga edukatif STIQ, STIA, STIPER Amuntai</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:24pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, hanya dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga perjalanan hidup, karier bahkan masa depan anak-anak bangsa yang bersatus pelajar demi mengukir masa depan yang gemilang, yang imbasnya <span> </span>bukan hanya untuk pribadi siswa semata, tetapi juga<span>  </span>keluarga, masyarakat dan bangsa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tulisan singkat dan ringan ini mencoba mengangkat kiat-kiat lulus dalam UAN, melalui jurus-jurus religius atau pendekatan keagamaan, sebab agama Islam adalah agama yang <em>rahmatan lil alamin</em>, yang sangat peduli pada persoalan-persoalan umat-Nya.<span>  </span><strong></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Ada</span><span> bebrapa langkah penting agar kata &#8220;lulus&#8221; benar-benar dapat diraih dengan<span>  </span>memuaskan secara lahir dan batin. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1. Niat yang Tulus</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>            </span>Nabi bersabda; &#8220;Segala sesuatu itu akan dinilai sesuai dengan niatnya,&#8221; Niat ternyata selain memberikan arahan yang jelas bagi seseorang dalam melakukan sesuatu, juga merupakan pendorong (motivator) yang sangat dahsyad. Yang pada gilirannya mampu memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara efektif dan efesien.</span> Termasuk dalam konteks ini adalah mengawali kegiatan UAN dengan menyebut Nama Allah (membaca <em>basmalah</em>). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2. Berusaha Semaksimal Mungkin</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hukama (orang bijak) <span> </span>mengatakan: &#8220;Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapat (sukses). Dalam hal bersungguh-sungguh ini, ibarat orang yang ingin mendapatkan ikan, jangan hanya memasang satu alat perangkap saja, tetapi <em>multi</em> alat, seperti; memasang jaring, <em>lukah</em>, <em>langit-langit</em> di tempat-temp-at strategis dan lain-lain. Begitu pula dengan kegaiatan persiapan UAN dengan berbagai kegiatan seperti; belajar tambahan, latihan penyelesaian soal, mengintensipkan belajar individu dan kelompok, <em>try out</em> dan sebagainya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2. Melaksanakan Kewajiban </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pada dasarnya ada dua kewajiban kita di dunia ini, yaitu; kewajiban vertikal dan kewajiban horizontal. 1) kewajiban yang bersifat vertical, yaitu kewajiban kepada sang pencipta (Allah SWT) dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Dalam hal ini kita perlu melaksanakan ibadah secara disiplin, misalnya selalu shalat dengan lengkap, <span> </span>di awal waktu bahkan berjamaah. <span> </span>2) kewajiban bersifat horizontal, misalnya kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dan guru (orang tua di sekolah), menghormati sesama dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2. Membayar Utang</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Membayar utang yang dimaksud di sini antara lain; yang bersifat material (utang uang atau barang) dan <span> </span>yang bersifat spiritual, dalam hal ini, seperti; utang ibadah, misalnya (meng-qadha shalat dan puasa yang pernah ditinggalkan baik lantaran alasan syara&#8217; (uzur) atau malah yang telah disengaja dilakukan. Jika kita mempunyai janji, maka sebaiknya segera ditunaikan. Bukankah janji itu utang juga?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>3. Bershalawat atas Nabi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Menurut para ulama bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. adalah salah satu kunci sukses dalam hidup. Oleh karena itu, banyak-banyaklah bershalat untuk beliau. Bukankah Tuhan, Yang Maha Kuasa dan para malaikat, yang mulia saja bershalawat untuk beliau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Lebih jauh dari itu,<span>  </span>menghidupkan sunnah dalam aktivitas sehari-hari<span>  </span>merupakan manivestasi dari shalawat<span>  </span>pula. Malah ini lebih tinggi nilainya di sisi Tuhan dan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4. Meningkatkan Ibadah Khusus</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Banyak ibadah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita, yang tujuannya memang dikhususkan untuk pemohonan sesuatu,<span>  </span>misalnya; 1). <em>shalat dhuha</em> agar dibukakan pintu rejeki, ini merupakan gambaran dari isi doa shalat dhuha. Yang dimaksud rejeki di sini tentu saja tidak sebatas harta-benda saja, tetapi juga yang berupa<span>  </span>kesehatan, kenyamanan, kemudahan, kelulusan dan sebagainya, 2) <em>shalat tahajud</em> adalah untuk mendapatkan kedudukan yang terhormat (<em>maqamam mahmuda</em>), puasa senin-kamis (untuk membersihkan atau menenangkan jiwa) dan lain-lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">5. Meningkatkan Sedeqah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Nabi Muhammad SAW bersabda : &#8220;Sedeqah itu penolak bala.&#8221; Lalu apa hubungannya dengan UAN? Begini, setiap kejadian yang dapat membuat hati bersedih bisa dikatagorekan sebagai bala. Jika mengalami &#8216;tidak lulus&#8217; orang akan sedih. Oleh karena itu &#8216;tidak lulus&#8217; bisa dianggap sebagai &#8216;bala&#8217;. Untuk menolak &#8216;bala&#8217; ini bisa dilakukan melalui sedeqah atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, yang terkadang orang menyebutnya &#8216;keshalehan social&#8217; misalnya memberikan uang jajan buat anak yatim dan orang yang tidak mampu dan lain-lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">6. Ber-nazar</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Nazar adalah janji berbuat kebajikan kepada Allah. Jika suatu keinginan terkabul, misalnya jika lulus dengan hasil yang memuaskan akan berpuasa tiga hari, bersedeqah <span> </span>dan sebagainya.<span>  </span>Nazar tentu saja untuk hal-hal yang baik-baik saja, tidak boleh untuk hal-hal yang bersifat maksiat, apalagi yang mengarah pada kemusyrikan. Misalnya, ber-nazar jika lulus akan meletakkan kembang di pohon besar yang dianggap ada penghuninya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">7. Berdoa</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Doa selain merupakan inti ibadah, doa juga merupakan inti dari keinginan seorang makhluk kepada sang Khalik (pencipta). Nabi menyidir bahwa orang yang enggan berdoa adalah pertanda kesombongan yang ada pada di hati seseorang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Doa bisa dilakukan secara individual, namun bisa pula secara kolektif bahkan kedua-duanya sekaligus. Dengan doa bersama maka kemungkinan dikabulkan pun akan lebih besar. Atas alasan inilah orang biasanya melakukan upacara doa bersama, zikir berjamaah untuk memohon kelulusan dalam UAN.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">8. Hindari Maksiat/Dosa</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hindarilah segenap kegiatan maksiat atau dosa, baik dosa kecil, lebih-lebih doa besar, misalnya; menonton tayangan yang tidak baik, pergaulan bebas, mengkonsumsi narkoba, durhaka pada orang tua, berbohong dan lain-lain. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dengan memperhatikan hal-hal di atas, saya yakin anda akan dapat meraih sukses UAN dengan gemilang dalam artian berhasil lulus secara duniawi dan<span>  </span>ukhrawi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><em>The last but not least</em>, Satu hal yang tidak boleh diabaikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan. Ada kalanya keinginan kita bertolak belakang dengan takdir dari Tuhan, misalnya kita ingin lulus, namun kenyataannya tidak. Untuk hal ini, maka kita haruslah ikhlas menerimanya dengan penuh kesabaran. Tidak perlu menggantungkan diri di &#8216;pohon lombok&#8217;, apalagi jika pohon lomboknya ada di atas loteng alias bunuh diri. Yakinlah bahwa semua itu mempunyai hikmah yang tersembunyi. Bukankah tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan Allah dengan sia-sia?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Walaupun demikian, saya tetap berharap agar anda, teman anda, anak anda, atau tetangga, bahkan kita semua termasuk golongan orang-orang yang lulus</span><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span><span style="font-size:small;">dengan gemilang.</span><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mari berdoa; <em>Allahumma yassir lana fil imtihan<span>  </span>Allahummaj&#8217;alna minannajihina fil imtihan</em>. (Semoga kita dimudahkan dalam ujian. Dan, semoga kita termasuk orang yang sukses dalam ujian (sekolah, pekerjaan, karier, hidup dan lain-lain). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;">Amin!</span><span style="font-size:24pt;line-height:200%;">*</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">*Yang ingin memberi komentar silakan melalui </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>   </span>Email : <span style="background:black;color:red;"><a href="mailto:hasbi.salim@yahoo.co.id"><span style="color:red;">hasbi.salim@yahoo.co.id</span></a></span><span>  </span>Blog : hasbisalim.wordpress.com</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>          </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=18&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/08/kiat-lulus-uan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beo Asing</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/beo-asing/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/beo-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 19:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[  (Cerpen Anak)                   
Beo Asing 



  A



ku  sudah lama ingin memiliki burung beo yang elok dan bisa bicara. Namun, rasanya tidak mungkin, sebab harganya sangat mahal. 
Suatu hari, seekor burung beo tertabrak kaca jendela. Ia  terkulai di bawah jendela. Dengan mudah aku menangkapnya. Ia  bisa mengucapkan “Mat gii!” Kontan saja seisi rumahku sangat senang. Kecuali, ayah. Aku heran!
“Ayah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=15&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:20pt;"><font face="Times New Roman">(Cerpen Anak)</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"></span><span style="font-weight:normal;font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"></font></span><span style="font-size:24pt;"><strong><font face="Times New Roman">Beo Asing</font></strong></span><span style="font-size:16pt;"><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></span></p>
<div>
<table align="left" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td align="left" vAlign="top" style="background-color:transparent;border:#a5bceb;padding:0;"><span style="font-size:94pt;"><font face="Times New Roman"><span>  </span>A</font></span></td>
</tr>
</table>
</div>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">ku<span>  </span>sudah lama ingin memiliki burung beo yang elok dan bisa bicara. Namun, rasanya tidak mungkin, sebab harganya sangat mahal. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">Suatu hari, seekor burung beo tertabrak kaca jendela. Ia<span>  </span>terkulai di bawah jendela. Dengan mudah aku menangkapnya. Ia<span>  </span>bisa mengucapkan “Mat gii!” Kontan saja seisi rumahku sangat senang. Kecuali, ayah. Aku heran!</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“Ayah lebih suka jika mendapatkan burung yang belum bisa mengucapkan apa-apa. Kasihan pemiliknya. Melatih burung tidak mudah, <i>lho.</i>” Ucap ayah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Tetapi, kita<span>  </span>tidak mencuri-<i>kan</i>, Yah?” sanggahku. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“Bagaimanapun pemiliknya semula<span>  </span>lebih berhak.”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Beres, Yah. Akan aku serahkan jika pemiliknya mau mengambil,” ucapku.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Kau memang anak yang baik,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">Suatu siang, seorang lelaki tua datang ke rumahku. Ia mengaku sebagai<span>  </span>pemilik<span>  </span>burung itu. Aku hendak menyerahkan burung itu, walaupun hati agak berat. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“Tiba-tiba bel rumah dipencet. Seorang pemuda di depan pintu. Ia dipersilakan masuk. Setelah mengamati burung itu, dengan mantap ia mengaku burung itu<span>  </span>miliknya. Kontan saja kami<span>  </span>kaget. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“Berikan bukti bahwa<span>  </span>burung ini milikmu!” pinta ayah. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Jika ia mampu menyahut, maka ia milikku. Jika tidak, berarti bukan.”<span>  </span></font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">Kemudian, pemuda itu mengulurkan tangan. Burung itu melompat-mendekat. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“<i>How are you?</i>” ucap pemuda itu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“<i>Fine</i>,” sahut burung beo seraya mengangguk-angguk.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoTitle"><font face="Times New Roman"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;">Burung beo itu diserahkan kepada pemuda itu. Dan, pemuda itu memberi kami seekor burung beo muda.*</span></font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=15&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/beo-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Api! Api! Api!</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/api-api-api/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/api-api-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 19:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/api-api-api/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Islami :Api! Api! Api!
Oleh : M. Hasbi Salim
 




   H




adi jarang sekali pulang kampung, maklum sejumlah kesibukannya sebagai PNS dan pimpinan beberapa organisasi kepemudaan di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari desa kelahirannya harus dilakoninya. Sehingga, bukan saja membuat ia jarang pulang kampung, tetapi pulang ke rumah pun tidak jarang lebih duluan itik ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=14&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><font face="Times New Roman">Cerpen Islami :</font></b><b><span style="font-size:24pt;"><font face="Times New Roman">Api! Api! Api!</font></span></b></p>
<h1><font size="3" face="Times New Roman">Oleh : M. Hasbi Salim</font></h1>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<div>
<table align="left" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td align="left" vAlign="top" style="background-color:transparent;border:#a5bceb;padding:0;">
<h2><span style="font-weight:normal;font-size:54.5pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>   </span>H</font></span></h2>
</td>
</tr>
</table>
</div>
<h2><span style="font-weight:normal;"><font size="3"><font face="Times New Roman">adi jarang sekali pulang kampung, maklum sejumlah kesibukannya sebagai PNS dan pimpinan beberapa organisasi kepemudaan di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari desa kelahirannya harus dilakoninya. Sehingga, bukan saja membuat ia jarang pulang kampung, tetapi pulang ke rumah pun tidak jarang lebih duluan itik ke kandangnya, kerbau ke<span>  </span><i>kalang-</i>nya dan elang ke sarangnya.</font></font></span></h2>
<p><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ia biasanya menyempat-nyempatkan pulang kampung pada saat<span>  </span>penataran atau lagi melaksanakan tugas tertentu dari organisasi di ibukota<span>  </span>provinsi (Banjarmasin), karena desanya yang konon tergolong ‘desa terpencil’<span>  </span>tidak terlalu jauh dari ibu kota provinsi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Hadi akan bermalam semalam di kampung kelahirannya, sebab penataran yang seyogyanya dilaksanakan selama satu minggu<span>  </span>oleh panitia pelaksana jadwalnya dipadatkan, maklum bertepatan dengan tibanya bulan Ramadhan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sambil tersenyum Hadi menaiki ojek yang akan mengantarnya ke kampung halamannya. Ia teringat ketika lima belas tahun yang lalu. Saat malam-malam di<span>  </span>bulan Ramadhan. Menyenangkan! Sebab, ia dan teman-temannya beramai-ramai pergi ke surau kecil yang tidak jauh dari rumahnya.<span>   </span></font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Biasanya, seminggu sebelum Ramadhan tiba, surau Ar Raudhah sudah ‘dimandii’ dan ‘didandani’, hingga bersih dan indah. Untuk mengantisipasi membludaknya ‘jamaah musiman’, maka di eper surau dihamparkan karpet rotan (<i>lampit</i>) sebagai alas, dibentangkan<span>  </span><i>terpal</i> sebagai atap dan spanduk bekas<span>  </span>sebagai dinding. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Nek! Paman Hadi datang!” Seru Alfi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Bu Hj. Zainah yang dipanggil Alfi “Nenek!” segera menghentikan pekerjaannya dan membersihkan tangannya yang belepotan adonan bingka. Ia sebenarnya tidak terkejut mendengar kehadiran anak sulungnya itu, walaupun<span>  </span>secara mendadak. Hadi memang tidak mau merepotkan ibunya yang <i>single parent</i> dan adik-adiknya. Kalau mereka tahu ia akan pulang, pastilah mereka akan menyambutnya dengan berbagai acara istimewa, seperti mempersiapkan makanan ‘<i>gangan karuh</i>’ dan minuman es cendol kesukaannya. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Setelah mengucapkan salam, Hadi langsung menemui ibunya dan mencium tangan perempuan tua yang sudah mulai keriput itu tanpa ragu-ragu. Perbincangan dua-beranak itu pun mengalir bagaikan air hujan yang lebat, maklum banyak berita dan cerita yang hendak disampaikan. ‘Curhat’ <i>lagi</i>! </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Saat senja tiba. Hadi bergegas pergi ke surau untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ia heran melihat surau yang nampak sepi. Suasana gelap lantaran hanya disinari lampu pijar 5 watt sebanyak dua buah. Ini pemandangan yang sangat kontras jika dibanding dengan rumah-rumah penduduk yang diterangi<span>  </span>ratusan watt.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Dulu, surau menggunakan dua buah lampu pitromak, namun cahayanya jauh lebih terang dari ini,” kenang Hadi. “Belum lagi sejumlah obor dan lampu tembok yang sengaja ditempatkan di tepi jalan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Kini, listrik sudah masuk desa,<span>  </span>aneka benda elektronik bukan barang mewah lagi, parabola bertengger hampir di setiap rumah,<span>  </span>tak terkecuali sebuah rumah tua yang ada di ujung desa. <i>Tower</i> tempat penyangga antena<span>  </span>telepon selular pun berdiri dengan angkuh<span>  </span>di sana-sini.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“<i>Kok</i>, sepi amat?” Hadi membatin. Hadi kembali ke rumah dan bergegas menemui ibunya yang hendak menyusulnya.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Sekarang ada berapa surau di kampung kita ini?’’ tanya Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“<i>Kok</i>, pertanyaanmu aneh begitu, Di?” Ibunya balik bertanya. “Sejak zaman kamu kecil dulu sampai sekarang, bahkan mungkin nanti tetap satu saja.” </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Lalu, ke mana orang-orang kampung pada jam begini,” tanya Hadi. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Entahlah!” jawab Bu Zainah.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Tidak tahu!?” suara Hadi meninggi dangan mata terbelalak.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Maksud Ibu, sekarang mereka kira-kira ada di rumah masing-masing, tetapi, Ibu tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan,” jelas Bu Zainah. “Kenapa kamu…?”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span> </span>“<i>Astaghfirullahul azhiim</i>!” Hadi sadar. “Yang ditanyakan soal orang lain, kenapa aku emosi kepada ibuku sendiri?” lanjutnya di hati. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Maafkan Hadi, Bu,” ucap Hadi. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Tidak apa-apa,” jawab Bu Zainah maklum.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Setelah melaksanakan shalat magrib, Hadi melangkah ke lorong desa menelusuri jalan setapak yang rumputnya sudah hampir menutupi seluruh badan jalan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Di sebuah rumah megah yang bercat ungu<i> </i>terdengar oleh Hadi orang-orang tertawa terbahak-bahak. Dari balik gurden yang sedikit tersingkap ia melihat ada beberapa orang lelaki dewasa sedang<span>  </span>nonton televisi<span>  </span><i>chanel</i><span>  </span>luar negeri. Di ruang tamu,<span>  </span>seorang pemuda sedang mengotak-atik <i>laptop</i>, sepertinya ia lagi <i>chatting.</i> Di ujung beranda rumah seorang remaja putri senyum-senyum sendiri, barangkali ia sedang ber-SMS ria. Di bebangkuan depan rumah dua orang ABG<span>  </span>menggoyang-goyangkan kepala, mereka sedang menikmati musik melalui<span>  </span><i>head set</i> yang menempel di telinganya. Nampak lucu sekali! Bagaikan dua buah pohon yang diterpa angin ke sana-ke mari, sebab satu <i>head set </i>mereka pakai berdua. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Goyang terus!” ucap Hadi seraya meninggalkan tempat itu. Kedua ABG itu kian tenggelam dalam keasyikan musik rok yang <i>non-stop</i>.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Hadi kembali ke surau. Di halaman surau nampak sejumlah anak kecil berlari-larian ke sana–ke mari. Tiba-tiba muncul dua sosok lelaki yang cukup dikenalnya, Pak Marzuki, sang <i>kaum</i> yang merangkap imam surau, usianya sudah berkepala enam dan seorang pemuda bernama Fauzi, <i>muazin</i> tetap. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Hadi! Kapan datang?” sapa Pak Marzuki dan Fauzi berbarengan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Tadi siang,” jawab Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Ngomong-ngomong, mana jamaah yang lain?” tanya Hadi tak sabar menahan keingintahuannya yang menggumpal di dada. Ia mencoba mencari jawabannya dengan menyapu pandangannya ke segenap penjuru.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Yang penting malam ini ada tambahan jamaah,” ucap Pak Marzuki berdiplomasi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Siapa?”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Ya, kamu.”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Hadi geleng-geleng kepala. “Apakah anak-anak kecil yang bermain di luar sana itu akan ikut bergabung dalam shalat berjamaah nanti?” Tanya Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Mereka hanya shalat Isya, setelah itu bermain. Dan, akan datang lagi menemui Pak Mar seusai <i>taraweh</i>.”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Untuk apa?”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Meminta tanda tangan, untuk mengisi lembar laporan kegiatan Ramadhan yang diwajibkan sekolah.”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Hadi termenung. Sesaat kemudian, ia melangkah<span>  </span>ke sebelah kanan surau. Seingatnya ada beduk lengkap dengan pemukulnya di situ. Lama ia mondar-mandir dengan mata liar. Ia juga ingat betul bahwa untuk mengumpulkan masyarakat desanya<span>  </span>cukup dengan memukul beduk yang ada di surau itu. Namun, benda yang dicarinya tidak terlihat sama sekali. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Mana beduk, Zi?” tanya Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Fauzi nampak kebingungan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Mana beduk?” ulang Hadi dengan suara meninggi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Untuk apa?” ucap Fauzi. “Kau mau mengambil kulit kerbaunya untuk direbus, lalu dibikin <i>cingor </i>buat makan sahur?” ledek Fauzi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Aku lagi serius, nich!” bentak Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Melihat keadaan mulai memanas, Pak Marzuki mendekat. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Sabar, Nak Hadi!” ucap Pak<span>   </span>Marzuki. “Untuk apa kau mencari beduk?” lanjutnya sambil mengelus-elus bahu Hadi. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Untuk<span>  </span>mengumpulkan orang-orang agar shalat berjamaah di surau ini bersama-sama,” ucap Hadi.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Hadi! Hadi!” ucap Pak Marzuki geleng-geleng kepala. “Kau rupanya benar-benar tidak tahu perkembangan masyarakat di sini lagi. Makanya kalau meninggalkan kampung halaman jangan lama-lama!”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Hadi makin bingung. “Ada apa?” desaknya. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Begini, Di!” ucap Pak Marzuki penuh wibawa. “Di sini beduk sudah lama punah. Sebab sudah ada alat-alat komunikasi penggantinya yang lebih canggih, misalnya; pengeras suara, <i>handpone</i>, radio, stasion televisi mini bahkan internet. Dengan beberapa pencetan saja pesan sudah sampai ke tujuan, kenapa harus menggunakan beduk?” jelas Pak Marzuki. </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Dengan mata yang memerah Hadi melangkah ke depan <i>paimaman</i>, lalu meraih microfon dan berteriak, “Api! Api!! Api!” Kontan saja suara Hadi<span>  </span>menggema ke seluruh penjuru desa bahkan sampai ke desa tetangga.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Saat kemudian terdengar orang-orang sibuk. Sejumlah kakek meraih sertifikat tanah. Beberapa orang pria menenteng ijazah keluarganya. Ibu-ibu berlari mengamankan kotak berisi emas-permata.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Hadi mengambil sajadah-sajadah lusuh lalu membakarnya di eper surau. Lalu,<span>  </span>kembali meraih microfon dan berteriak. “Api! Api! Api Neraka!”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru. Masing-masing mereka menenteng sebuah ember berisi air yang siap untuk memadamkan api.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Biarkan saja!” ucap Hadi lantang.<span>  </span>“Siapa yang berani memadamkan, akan kubunuh!” lanjutnya<span>  </span>sambil membusungkan dada.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Orang-orang tertegun.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Kepala desa mendekati Hadi. “Kalau dibiarkan,<span>  </span>surau kita yang satu-satunya ini akan ludes,” ucap Kepala Desa dengan suara memelas. “Sayang kan?”</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Biar saja!” ucap Hadi. “Yang penting harta-benda kalian sudah aman!” cetusnya.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Tapi, kalau api<span>  </span>merembet ke rumah penduduk, maka rumahku dan rumah ibumu juga kena,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Tiba-tiba empat orang polisi menangkap Hadi. Lalu, membergol dan menyeretnya.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">“Jika kalian masih memerlukan surau, padamkanlah! Tetapi, jika tidak, biarkan saja!” ucap Hadi sesegukan dengan airmata yang kian deras.***</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">Rumpiang, 11 Ramadhan 1428 H. e-mail : hasbi.salim@Yahoo.co.id</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"><span>     </span></font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Amuntai, 1 Oktober 2007</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Kepada Yth.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><span>                                                            </span>Pengasuh Rubrik </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Seni dan Budaya</span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong></font><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Banjarmasin Post</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Di- Banjarmasin</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Dengan hormat, </font></span><font face="Times New Roman"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;">Saya sangat gembira atas munculnya kembali DAHAGA di media ini. Sebagai tanda suka cita, saya kirim sebuah cerpen dengan judul : </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><strong>Api! Api! Api!</strong></span></font><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Besar harapan saya kiranya cerpen ini bisa dipublikasikan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Terus terang saya sudah mengirim cerpen ini ke media ini melalui fax dan email. Namun, khawatir kalau gagal, maka saya kirim melalui surat kembali.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Terima kasih.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Wassalam,</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">M. Hasbi Salim<span>                         </span></font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Amuntai, 1 Oktober 2007</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Kepada Yth.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><span>                                                            </span>Pengasuh Rubrik </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Cerpen </span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong></font><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Radar Banjarmasin</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>Di- Banjarbaru</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Dengan hormat, </font></span><font face="Times New Roman"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;">Mengingat fax dan email saya bermasalah maka saya kirim melalui surat cerpen saya yang berjudul : </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><strong>Kucing dalam Karung</strong></span></font><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Besar harapan saya kiranya cerpen ini bisa dipublikasikan.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Terima kasih.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Wassalam,</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">M. Hasbi Salim</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=14&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/api-api-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Durian Lampini</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/durian-lampini/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/durian-lampini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 10:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/durian-lampini/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M. Hasbi Salim 



A



ku paling suka buah Durian. Kebetulan kami mempunyai beberapa pohon, yang tumbuh jauh di belakang rumah. Pohon-pohon ini merupakan peninggalan kakekku beberapa tahun yang silam. Dengan adanya pohon-pohon tersebut, maka  setiap musim durian tiba kami dapat menikmati buah-buah “durian lampini” tanpa harus membeli. 
“Durian lampini” adalah sebutan yang diberikan oleh  orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=13&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><i><span style="font-size:14pt;"><font face="Times New Roman">Oleh : M. Hasbi Salim</font></span></i></b><b><i><span style="font-size:24pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></i></b></p>
<div>
<table align="left" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td align="left" vAlign="top" style="background-color:transparent;border:#a5bceb;padding:0;"><font face="Times New Roman"><b><span style="font-size:95.5pt;">A</span></b><span style="font-size:95.5pt;"></span></font></td>
</tr>
</table>
</div>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>ku</span> paling suka buah Durian. Kebetulan kami mempunyai beberapa pohon, yang tumbuh jauh di belakang rumah. Pohon-pohon ini merupakan peninggalan kakekku beberapa tahun yang silam. Dengan adanya pohon-pohon tersebut, maka<span>  </span>setiap musim durian tiba kami dapat menikmati buah-buah “durian <i>lampini”</i> tanpa harus membeli. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Durian <i>lampini” </i>adalah sebutan yang diberikan oleh<span>  </span>orang-orang kampungku terhadap buah durian yang sangat matang di pohon, biasanya ia jatuh ke tanah dengan sendirinya lantaran tangkainya yang sudah mengering. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mendengar orang menyebut ‘durian <i>lampini</i>’, air liurku langsung pecah, sebab terbayang baunya yang menyengat hidung, isinya yang<span>  </span>lembut yang sering terlihat dari<span>  </span>buah yang merekah, rasanya yang sangat manis lantaran benar-benar matang. Bukan karena ‘karbitan’ atau perangsang.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Untuk mendapatkan buah-buah durian <i>lampini </i>yang lezat pada musim buah biasanya<span>  </span>tinggal berjalan-jalan saja ke kebun durian di pagi hari, sebab<span>  </span>buah-buah yang sangat matang itu biasanya berjatuhan ke tanah pada malam hari lantaran dihinggapi mangsa seperti burung, kalung, dan lain-lain. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kalau berjalan-jalan di bawah pohon durian, aku tidak lupa mengenakan helm untuk keamanan batok kepala. Maklum, kadang-kadang buah sebesar kepala itu jatuh secara tiba-tiba. Aku tidak perduli<span>  </span>dikata-katai teman-teman<span>  </span>robot nyasar. “Demi keamanan,” timpalku.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Namun, aku heran kenapa akhir-akhir ini jarang sekali menemukan buah-buah durian <i>lampini</i> di bawah pohon, padahal buah-buah matang yang tadinya banyak<span>  </span>menggelantung di atas pohon,<span>  </span>kini tinggal sedikit.<span>  </span>Apakah dibawa kalung atau burung? Tidak mungkin, karena buahnya berat. Dipetik ayah? <i>Ah</i>, mustahil, sebab setahuku ayah tidak berani<span>  </span>lagi naik pohon, sejak lima tahun yang lalu, lantaran terjatuh<span>  </span>dari pohon rambutan.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada suatu sore, ayah melenggang masuk rumah sambil menenteng dua biji buah durian <i>lampini</i>. Begitu melihatnya, aku segera merebut durian yang ada di tangannya.    Buah-buah itu hampir saja jatuh ke kaki ayah. Ayah menggidik membayangkan duri-duri tajamnya menancap di kaki dan mengeluarkan cairan merah yang segar dan berbau amis.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sabaran sedikit, kenapa, <i>sih</i>?” ucap ayah seraya menyerahkan buah durian ke tanganku.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Maaf, Yah,”<span>  </span>ucapku. “<i>Abis</i> aku sudah lama merindukan buah-buah seperti ini,” lanjutku. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Buah-buah durian <i>lampini</i> itu segera kubelah.<span>  </span>Ayah dan ibu ikut menyantapnya dengan lahap.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Enak sekali durian ini, Yah,” ucapku dengan suara tak sempurna lantaran mulutku terganjal biji durian yang sedang kukecup berulang-ulang. Ayah<span>  </span>menatapku seraya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Persis durian milik kita,” ucap ibu spontan dengan mata yang terpejam-pejam karena merasakan lebih dalam kelezatannya.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya,” sambarku. Aku sebenarnya hendak mengatakan itu, tetapi duluan ibu.<span>  </span>“Beli di mana, Yah?”<span>  </span>tanyaku kemudian.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Di pasar,” jawab ayah seraya tersenyum.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Melihat senyum ayah,<span>  </span>aku ragu dengan kata-katanya. “Ayah berbohong!” ucapku.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pasti ini buah durian yang tumbuh di belakang rumah,” ucap ibu mendukungku. “Dari kulitnya aku sudah curiga. Setelah merasakan kelezatannya, aku menjadi yakin,” tambahnya. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ngaku saja, Yah,” rayuku. “Biar hukumannya tidak berat. Betul kan, Bu?” ucapku sambil mencolek bahu ibu. Ibu tersenyum.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Emangnya ayah pencuri, apa? Diintrogasi begitu,” ayah marah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Cuma bercanda, Yah. Masa diambil hati,” ucap ibu lembut.</font></p>
<p style="margin:0 0 6pt 14.15pt;" dir="ltr" class="MsoBodyTextIndent2"><font face="Times New Roman">“Ya, kami hanya bercanda,” ucapku penuh penyesalan. “Maaf! Maaf!” </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Oke, oke. Aku ngerti,” ucap ayah sambil tersenyum, pertanda ia tidak marah sungguhan. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kemudian ayah mendekati aku dan ibu. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Begini,” ucap ayah serius. Kemudian ayah menceritakan panjang lebar bahwa buah-buah durian <i>lampini</i> itu memang dibelinya di pasar buah tradisional. Ketika itu tak sengaja matanya tertumbuk pada setumpuk buah durian yang digelar seseorang di tepi jalan. Ia langsung tertarik, lalu mendekatinya. Kemudian, memegang dan menciumnya. Ia kian tertarik melihat isinya yang sedikit tampak dari sela-sela kulitnya yang merekah. Hal itu mengingatkannya pada buah-buah durian <i>lampini </i>miliknya yang sering disantapnya pada tahun-tahun yang lalu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ini pastilah<span>  </span>jenis buah durian Bangkok,” ucap ayah dengan yakin kepada penjual durian.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Saya kurang tahu jenis-jenis<span>  </span>buah durian, Pak. Soalnya saya beli dari seseorang juga. Itu dia orangnya,” ucap penjual durian itu sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada seorang<span>  </span>pemuda yang berbadan jangkung dan berkumis, yang tidak jauh dari<span>  </span>tempat itu. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mendengar pembicaraan ayah dan penjual buah, pemuda itu menoleh sejenak, kemudian mempercepat langkahnya, hingga ditelan kerumunan manusia yang kian berdatangan dari berbagai penjuru.<span>  </span></font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada suatu hari, ayah membuat sebuah rencana yang kusebut ‘Operasi Durian <i>Lampini</i>’. Aku tentu saja senang dilibatkan dalam operasi itu, sebab memang sejak duduk di Sekolah Dasar aku tertarik hal-hal yang bersifat detektif sampai saat aku sudah duduk di SLTA ini. Mungkin ini dampak dari<span>  </span>kesukaanku menonton film detektif di televisi.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa yang harus aku lakukan, Yah?”<span>  </span>tanyaku ragu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Mudah saja,” ucapnya sambil tersenyum. “Tunggu saja perintah komandan!”<span>  </span>lanjut ayah sambil menunjuk dadanya dengan ibu jarinya berulang-ulang.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Aku tersenyum melihat ayah yang<span>  </span>nampak gagah,<span>  </span>padahal ia sudah<span>  </span>dimakan usia setengah abad. Tiba-tiba ia kelihatan seperti polisi-polisi yang mengatur lalu-lintas pengguna jalan di persimpangan.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>                                                </span><span>            </span>***</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada suatu dini hari, aku,<span>  </span>ayah dan<span>  </span>Pak<span>  </span>Gunadi, teman akrab ayahku pergi ke kebun durian. Kami membawa<span>  </span>peralatan yang telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika mulai memasuki kawasan kebun durian bulu kodokku merinding. Lantaran terbayang di benakku ular berbisa yang melingkar-lingkar dan sewaktu-waktu siap menyerang dengan biasanya jika diganggu. Apalagi jalan yang dilalui penuh rumput dan semak-semak yang cukup tebal. Biasanya tempat-tempat seperti itu merupakan tempat yang nyaman baginya. Aku melangkah jua di belakang ayah sambil mengusir perasaan was-was.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Setibanya di kebun durian, aku disuruh ayah bersembunyi di bawah pohon dan melakukan sesuatu jika isyarat dibunyikan. Sementara, ayah melangkah ke bawah pohon yang lain. Binatang-binatang kecil yang mencium bau badanku mulai berdatangan dan hinggap. <i>Duh</i>, gatalnya! Rupanya mereka mulai ‘usil’ menggambil darah yang ada di tubuhku. Aku hanya diam, tidak berani berbuat apa-apa, sebab takut berisik yang mengakibatkan gagalnya rencana.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Terdengar desah dedaunan kering yang diinjak seseorang. Tubuhku mulai gemetar. Kupeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku sambil berusaha mengendalikan diri. Dari sinar bulan sabit yang tembus di sela dedaunan terlihat kelebat seseorang berjalan di bawah pohon lalu naik ke pohon dengan cepat sekali.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada tepukan tangan ketiga yang dilakukan ayah, aku segera melakukan tugas yang telah diberikan, yaitu memencet tombol kecil yang ada di tanganku. Kontan saja <i>larm</i> berbunyi melengking dan beberapa buah lampu <i>nion</i> yang di panjang di beberapa dahan pohon menyala terang sekali. Nampak Mang Udin dan dua orang pemuda desa lainnya kaget luar biasa.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Menyerahlah! Tempat ini sudah dikepung!” ucap ayah sehabis suaranya.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mendengar suara ayah yang menggelegar, para pencuri itu urung lari. Mereka<span>  </span>semua adalah para pemuda desa yang putus sekolah, yang pengangguran.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Maafkan kami, Pak,” ucap Mang Udin menyembah-nyembah di kaki ayah diikuti oleh<span>  </span>temannya. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalian saya maafkan. Tapi, proses hukum tetap dijalankan,” tegas ayah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Betul!” ucap Pak Haji Gurdan. “Saya setuju itu!” lanjutnya tegas. “Mari ikut kami!”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para pencuri sangat kaget melihat Pak Gurdan, seorang tokoh masyarakat pemilik kebun durian yang juga pernah mereka curi<span>  </span>ada di situ.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para pencuri buah-buah durian itu tidak mengira kalau modus pencurian yang sangat halus itu bisa diketahui. Pencurian itu dilakukan dengan cara; salah seorang naik ke atas pohon untuk memetik buah-buah yang matang dengan perlahan, kemudian mengikat dan menurunkannya dengan tali satu persatu. Sementara yang lainnya menadahkan karung di bawah pohon. Sehingga buah-buah itu bisa langsung mereka masukkan.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para pencuri itu berlotot meminta agar tidak dibawa ke polisi.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Begini saja,” ucap ayah kepada keempat pencuri tersebut. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bagaiman, Pak?” desak Mang Udin. Ia<span>  </span>nampak antusias ingin mengetahui jalan keluar yang diberikan ayah. Ia<span>  </span>pikir ayah akan memberikan sanksi yang tidak berat.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalian kami minta mengembalikan buah-buah yang telah dicuri.”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sudah terjual habis, Pak,” aku Mang Udin dengan suara memelas.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalau begitu serahkan uangnya,” desak ayah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sudah habis, Pak.”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Buat apa?”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Buat judi, Pak,”<span>  </span>ucap Mang Udin malu-malu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seandainya kalian mencuri hanya untuk dimakan sendiri, niscaya akan kami relakan tanpa sanksi. Tetapi, lantaran seperti itu, sanksi tetap kami berikan,” ucap ayah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para mencuri itu menunduk sedih. Butir demi butir air mata mereka jatuh ke tahan. Lama-lama mengguyur bagaikan hujan<span>  </span>yang lebat.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Semua diam membisu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Begini saja,” ucap ayah dengan kalam. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para pencuri itu bergegas memperhatikan kata-kata ayah dengan saksama.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalian kami beri sanksi, memetikkan sisa-sisa buah-buah yang ada di pohon sampai selesai tanpa upah,”<span>  </span>ucap ayah.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Para pencuri itu pasrah<span>  </span>dan menerima<span>  </span>sanksi itu, sebab hukuman seperti itu mereka pikir sangat ringan. Mereka pun mengucapkan terima kasih berulang-ulang diberi sangsi seperti itu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Namun ternyata, baru tiga jam memetik buah-buah yang ada di atas pohon tanpa istirahat, mereka sudah hampir pingsan lantaran kelelahan, apalagi setelah mendengar bahwa para pemilik pohon durian lainnya yang pernah mereka curi berdatangan dan<span>  </span>menuntut untuk dipetikkan secara gratis pula. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Orang-orang ternyata tidak tega melihat para pencuri yang kian lemas lantaran kelelahan luar biasa. Mereka diperbolehkan pulang setelah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi di kemudian hari. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kini kami dapat menikmati buah-buah durian <i>lampini</i> kembali setiap musim buah tiba. <span style="font-size:24pt;line-height:200%;">*</span></font><span style="color:black;"><a href="mailto:E-mail"><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">E-mail</font></span></a><font face="Times New Roman"> : hasbi.salim@yahoo.co.id</font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bloger : hasbisalim.wordpress.com</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman"> </font></i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=13&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/durian-lampini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lulus UAN melalui Jurus Religius</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/lulus-uan-melalui-jurus-religius/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/lulus-uan-melalui-jurus-religius/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 10:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Drs. H. M. Hasbi Sali*
 Pendahuluan
 Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, sudah dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga perjalanan hidup, karier bahkan masa depan anak-anak bangsa yang bersatus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=12&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Drs. H. M. Hasbi Sali*</p>
<p> Pendahuluan</p>
<p> Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, sudah dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga perjalanan hidup, karier bahkan masa depan anak-anak bangsa yang bersatus pelajar demi mengukir masa depan yang gemilang, yang imbasnya bukan hanya untuk pribadi siswa semata, tetapi juga keluarga, masyarakat dan bangsa. Kita tentunya sudah tahu semua bahwa kriteria kelulusan anak-anak sekolah di tanah air kita dari tahun ke tahun bukannya kian mudah, tetapi kian berat, dengan tanda jumlah mata pelajaran bertambah yang banyak, standar nilai kelulusan yang kian tinggi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat adanya tuntutan zaman pada era globalisasi yang kian kompleks. Uji coba UAN telah dilaksanakan, hasilnyapun sudah diketahui pula. Terlontarlah kata, memprihatinkan!&#8221; Karena hasilnya yang jauh dari menggembirakan. Inikah gambaran hasil UAN tahun ini? Wallahu a&#8217;alam! Tulisan singkat dan ringan ini mencoba mengangkat kiat-kiat lulus dalam UAN, melalui jurus-jurus religius atau pendekatan keagamaan, sebab agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang sangat peduli pada persoalan-persoalan umat-Nya. Jurus-jurus Lulus : Ada bebrapa langkah penting agar kata &#8220;lulus&#8221; benar-benar dapat diraih dengan memuaskan secara lahir Dan batin. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut. 1. Niat yang Tulus Nabi bersabda; &#8220;Segala sesuatu itu akan dinilai sesuai dengan niatnya,&#8221; Niat ternyata selain memberikan arahan yang jelas bagi seseorang dalam melakukan sesuatu, juga merupakan pendorong (motivator) yang sangat dahsyad. Yang pada gilirannya mampu memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara efektif dan efesien. 2. Berusaha Semaksimal Mungkin Hukama (orang bijak) mengatakan: &#8220;Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapat (sukses). Dalam hal bersungguh-sungguh ini, ibarat orang yang ingin mendapatkan ikan, jangan hanya memasang satu alat perangkap saja, tetapi multi alat, seperti; memasang jaring, lukah, langit-langit di tempat-temp-at strategis dan lain-lain. Begitu pula dengan kegaiatan persiapan UAN dengan berbagai kegiatan seperti; belajar tambahan, latihan penyelesaian soal, mengintensipkan belajar individu dan kelompok, try out dan sebagainya. 2. Melaksanakan Kewajiban Pada dasarnya ada dua kewajiban kita di dunia ini, yaitu; kewajiban vertikal dan kewajiban horizontal. 1) kewajiban yang bersifat vertical, yaitu kewajiban kepada sang pencipta (Allah SWT) dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Dalam hal ini kita perlu melaksanakan ibadah secara disiplin, misalnya selalu shalat dengan lengkap, di awal waktu bahkan berjamaah. 2) kewajiban bersifat horizontal, misalnya kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dan guru (orang tua di sekolah), menghormati sesama dan lain-lain. 2. Membayar Utang Membayar utang yang dimaksud di sini antara lain; yang bersifat material (utang uang atau barang) dan yang bersifat spiritual, dalam hal ini, seperti; utang ibadah, misalnya (meng-qadha shalat dan puasa yang pernah ditinggalkan baik lantaran alasan syara&#8217; (uzur) atau malah yang telah disengaja dilakukan. Jika kita mempunyai janji, maka sebaiknya segera ditunaikan. Bukankah janji itu utang juga? 3. Meningkatkan Ibadah Sunat Banyak ibadah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita, yang tujuannya memang dikhususkan untuk pemohonan sesuatu, misalnya shalat dhuha (untuk dibukakan pintu rejeki), shalat tahajud (untuk mendapatkan kedudukan yang terhormat), puasa senin-kamis (untuk membersihkan atau menenangkan jiwa) dan lain-lain. 4. Meningkatkan Sedeqah. Nabi Muhammad SAW bersabda : &#8220;Sedeqah itu penolak bala.&#8221; Lalu apa hubungannya dengan UAN? Begini, setiap kejadian yang dapat membuat hati bersedih bisa dikatagorekan sebagai bala. Jika mengalami &#8216;tidak lulus&#8217; orang akan sedih. Oleh karena itu &#8216;tidak lulus&#8217; bisa dianggap sebagai &#8216;bala&#8217;. Untuk menolak &#8216;bala&#8217; ini bisa dilakukan melalui sedeqah atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, yang terkadang orang menyebutnya &#8216;keshalehan social&#8217; misalnya memberikan uang jajan buat anak yatim dan orang yang tidak mampu dan lain-lain. 5. Ber-nazar Nazar adalah janji berbuat kebajikan kepada Allah. Jika suatu keinginan terkabul, misalnya jika lulus dengan hasil yang memuaskan akan berpuasa tiga hari, bersedeqah dan sebagainya. Nazar tentu saja untuk hal-hal yang baik-baik saja, tidak boleh untuk hal-hal yang bersifat maksiat, apalagi yang mengarah pada kemusyrikan. Misalnya, ber-nazar jika lulus akan meletakkan kembang di pohon besar yang dianggap ada penghuninya. 6. Berdoa Doa selain merupakan inti ibadah, doa juga merupakan inti dari keinginan seorang makhluk kepada sang Khalik (pencipta). Nabi menyidir bahwa orang yang enggan berdoa adalah pertanda kesombongan yang ada pada di hati seseorang. Doa bisa dilakukan secara individual, namun bisa pula secara kolektif bahkan kedua-duanya sekaligus. Dengan doa bersama maka kemungkinan dikabulkan pun akan lebih besar. Atas alasan inilah orang biasanya melakukan upacara doa bersama, zikir berjamaah untuk memohon kelulusan dalam UAN. 7. Hindari Maksiat/Dosa Hindarilah segenap kegiatan maksiat atau dosa, baik dosa kecil, lebih-lebih doa besar, misalnya; menonton tayangan yang tidak baik, pergaulan bebas, mengkonsumsi narkoba, berbohong dan lain-lain. Dengan memperhatikan hal-hal di atas, saya yakin anda akan dapat meraih sukses UAN dengan gemilang dalam artian berhasil lulus secara duniawi dan ukhrawi. Penutup The last but not least, Satu hal yang tidak boleh diabaikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan. Ada kalanya keinginan kita bertolak belakang dengan takdir dari Tuhan, misalnya kita ingin lulus, namun kenyataannya tidak. Untuk hal ini, maka kita haruslah ikhlas menerimanya dengan penuh kesabaran. Tidak perlu menggantungkan diri di pohon lombok, apalagi jika pohon lomboknya ada di atas loteng alias bunuh diri. Yakinlah bahwa semua itu mempunyai hikmah yang tersembunyi. Sungguh tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan Allah dengan sia-sia. Walaupun demikian, saya tetap berharap agar anda, teman anda, anak anda, atau tetangga, bahkan kita semua termasuk golongan orang-orang yang lulus dengan gemilang. Mari berdoa; Allahumma yassir lana fil imtihan Allahummaj&#8217;alna minannajihina fil imtihan. (Semoga kita dimudahkan dalam ujian. Dan, semoga kita termasuk orang yang sukses dalam ujian (sekolah, pekerjaan, karier, hidup dan lain-lain). Amin!* *** *Email : hasbi.salim@yahoo.co.id Blogger : hasbisalim.wordpress.com Penulis Penulis dengan nama lengkap Drs, H. M. Hasbi Salim ini lahir pata tanggal 26 Juli 1963 di desa Rumpiang, kecamatan Aluh-Aluh, kabupaten Banjar, provinsi Kalimantan Selatan. Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Amuntai yang juga dosen tidak tetap pada STIQ, STIA, STIPER dan UT ini meraih predikat Guru Teladan 2 Tingkat Provinsi tahun 1994 dan Guru Berpristasi 3 Tingkat Provinsi tahun 2005. Saat mulai memasuki perguruan tinggi (Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, Jurusan Tadris Bahasa Inggris 1983-1988) berkenalan dengan dunia pers dan jurnalistrik melalui pendidikan dan latihan. Akhirnya aktif menulis di media massa dan dipercaya sebagai redaktor bulletin kampus Obor dan Mimbar Mahasiswa. Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1987-1988) ini pada pertengahan kuliahnya mulai menekuni dunia Karya Tulis Ilmiah. Ia beberapa kali menjuarai lomba karya tulis ilmiah antarperguruan tinggi tingkat provinsi, seperti Lomba Menulis tentang P4, KB, Kemahasiswaan dan lain-lain. Ketika awal bertugas sebagai guru (PNS), kegemaran menulisnya kian meningkat, antara lain; Harapan I dua kali berturut-turut dalam lomba Penulisan Naskah Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Depdiknas, Dirjen Jarahnitra, Jakarta tahun 1999 dan tahun 2000. Juara 2 tahun 2000 dan harapan 2 tahun 2005 dalam lomba Kreativitas Guru yang diselenggarakan oleh LIPI Jakarta. Pada suatu ketika saat presentasi karya tulis dalam suatu lomba, penulis disarankan oleh Bapak Drs. H. Yustan Azidin (Alm) (pendiri Banjarmasin Post) untuk terjun ke dunia fiksi dan nonfiksi. Setelah jatuh-bangun tujuh tahun lebih. Akhirnya berhasil sebagai juara harapan IV Nasional Penulisan Fiksi berupa Antologi Cerpen Anak tahun 2004 dan juara 2 tingkat nasional Penulisan Cerita Rakyat yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa tahun 2005. Juara 2 tingkat provinsi Penulisan Cerita Rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Tata Kota Kalimantan Selatan tahun 2007. Akhir-akhir ini penulis ini kian menggandrungi cerpen, sehingga pada dua tahun terakhir ini tidak kurang dari 100 cerpen sudah dihasilkan. Sebagian telah dipublikasikan pada Banjarmasin Post, dan Radar Banjarmasin, Tabloid Serambi Ummah dan lain-lain.majalah; Kartini, Al Kisah, Sahabat Pena, Mentari, Kids Fantasi, Asuh, Surat kabar Kompas, Buku yang telah diterbitkan dan dipublikasikan antara lain; Beternak Itik Alabio (nonfiksi), Adicita, Yogyakarta; tahun 2004, Kambang Barenteng (fiksi), Adicita, Yogyakarta; tahun 2004,. Misteri Pohon Kasturi (Antologi Cerpen Anak), Widya Duta, Bandung; tahun 2007 dan Dunia Sahabat (Antologi Cerpen Anak), Zikrul Hakim, Jakarta, tahun 2007.*</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=12&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/04/03/lulus-uan-melalui-jurus-religius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gara-gara Layang-layang</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/gara-gara-layang-layang-2/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/gara-gara-layang-layang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 10:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/gara-gara-layang-layang-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M. Hasbi Salim  



  S



ejak jam pelajaran terakhir dimulai,  Ferdi dan Ajai tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran lagi. Sebab, perhatian mereka terpaut pada sebuah layang-layang putus yang nyangkut di ujung ranting pohon kasturi di samping sekolah. Sebentar-sebentar mereka  mencuri-curi pandang pada layang-layang yang nampak terlihat melalui jendela yang terkuak, saat Pak Rudi masih ada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=11&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-size:18pt;"><font face="Times New Roman">Oleh M. Hasbi Salim</font></span></b><b><font face="Times New Roman"> </font></b><b><span style="font-size:16pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></b></p>
<div>
<table align="left" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td align="left" vAlign="top" style="background-color:transparent;border:#a5bceb;padding:0;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:93.5pt;"><span>  </span>S</span><span style="font-size:14pt;"></span></font></td>
</tr>
</table>
</div>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">ejak jam pelajaran terakhir dimulai,<span>  </span>Ferdi dan Ajai tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran lagi. Sebab, perhatian mereka terpaut pada sebuah layang-layang putus yang nyangkut di ujung ranting pohon <i>kasturi </i>di samping sekolah. Sebentar-sebentar mereka<span>  </span>mencuri-curi pandang pada layang-layang yang nampak terlihat melalui jendela yang terkuak, saat Pak Rudi masih ada di depan kelas. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Begitu lonceng pulang sekolah dibunyikan,<span>  </span>Ferdi dan Ajai langsung berlarian<span>  </span><span> </span>menerobos kerumunan siswa yang hendak pulang. Mereka mau mengambil<span>  </span>layang-layang tersebut. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Hii! Layang-layang itu milikku! Sebab, aku yang melihatnya lebih dahulu!” ucap Ferdi ketus sambil memegang bilah panjang untuk meraih layang-layang yang berayun-ayun karena ditiup angin. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Masa bodoh! Siapa yang dapat mengambilnya lebih dahulu, itulah yang berhak memilikinya!” sanggah Ajai tak kalah serunya sambil bergegas memanjat pohon dengan lincah.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ajai<span>  </span>kaget ketika melihat layang-layang yang hampir dapat diraihnya tiba-tiba<span>  </span>melayang ke bawah lantaran ranting pohon bergoyang. Ajai segera melompat turun tanpa menghiraukan resiko lagi. Usahanya ternyata tidak sia-sia. Ajai sempat menarik benangnya. Akibatnya layang-layang yang hampir jatuh ke tangan Ferdi kembali melambung ke atas.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Baik Ferdi maupun Ajai sama-sama hendak memiliki sendiri layang-layang tersebut. Bahkan, tidak ada yang mau mengalah. Mereka nampaknya lebih suka layang-layang itu hancur di tangan jika tidak bisa medapatkannya. Persaingan untuk mendapatkan layang-layang itu pun kian memanas, bahkan sudah mengarah pada perkelahian yang sengit. Mereka tidak memperdulikan lagi hubungan <span> </span>persahabatan yang telah lama terjalin. Ini benar-benar ibarat hujan sehari mengalahkan panas setahun. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">Tiba-tiba Ferdi dan Ajai terperosok ke dalam sumur berlumpur. Kontan saja badan mereka penuh lumpur, <span> </span>sementara layang-layang yang mereka perebutkan malah tergeletak di bibir sumur. Dan, saat mereka hendak naik ke tepi sumur, tiba-tiba seorang anak bertubuh gendut mendekat dengan berkacak pinggang.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">“Stop! Stop! Tidak ada gunanya kalian berkelahi. Layang-layang itu milikku!” ucap anak itu dengan mata melotot. “Jika kalian tidak percaya, lihatlah sisa benang yang ada di tanganku ini,” lanjutnya. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ferdi dan Ajai lemas seketika. Mereka<span>  </span>tak berkutik di hadapan anak itu. Setelah memungut layang-layang itu dengan leluasa anak itu<span>  </span>kemudian melenggang pergi tanpa permisi.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Lama Ferdi dan Ajai melongo seperti orang linglung. Sesaat kemudian, mereka saling berpandangan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Kau yakin layang-layang tadi miliknya?” tanya Ferdi.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Kira-kira saja,” ucap Ajai ragu.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Rasa-rasanya, tidak,” ucap Ferdi sambil mengingat-ingat sesuatu.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Kenapa kau berpendapat begitu?” desak Ajai.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Soalnya benang yang ada di tangannya tidak sewarna dengan ujung benang yang terikat pada layang-layang,” ucap Ferdi.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya, aku juga melihat itu,” ucap Ajai membenarkan.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Tapi, kenapa tadi, kita tidak<span>  </span>protes, ya?” Tanya Ferdi. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Barangkali kita terkena <i>hipnotes</i>,” jawab Ajai geleng-geleng kepala.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>&#8220;Ah, masa?&#8221; sanggah Ferdi.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ferdi dan Ajai <span> </span>sepakat mengejar anak yang mengambil layang-layang itu untuk merebutnya. Namun, ia kian mempercepat langkahnya. Ketika mereka menyerunya dengan keras dan berberulang-ulang, ia malah pura-pura tidak mendengar dan berlari hingga ditelan semak-semak yang rimbun. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Jangan-jangan ia bukan anak manusia biasa,” ucap Ferdi dengan pikiran menerawang sambil menatap pohon-pohon kasturi yang besar-besar.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Ya, barangkali anak hantu penghuni pohon kasturi,” ucap Ajai ketakutan lantaran teringat cerita orang-orang yang mengatakan bahwa pohon kasturi yang besar tidak jarang menjadi tempat hantu bermukim. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8220;Ah, kamu percaya yang begituan?&#8221; sanggah Ferdi. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8220;Jadi kau tidak percaya hal itu?&#8221; desak Ajai.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8220;Ya,&#8221; ucap Ferdi.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Walaupun Ferdi berkata begitu. Namun, <span> </span>diam-diam ia malah mengambil ancang-ancang untuk berlari mendahului Ajai, agar tidak tertinggal sendiri di kebun kasturi yang lebat itu. Apalagi hari kian gelap lantaran hari mulai mendung.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tidak lama kemudian, keduanya lari terbirit-birit hingga sampai ke pintu gerbang sekolah. Di sini mereka bertemu Pak Rudiman, penjaga sekolah. Dengan berapi-api mereka <span>  </span>menceritakan peristiwa yang baru mereka alami kepada lelaki tua yang sudah puluhan tahun diam di lingkungan sekolah itu.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa di sini ada hantu?” tanya Ajai ketakutan.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Saya rasa, tidak ada. Apalagi di siang bolong begini,” ucap Pak Rudiman seraya tertawa geli. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8220;<i>Kok!</i> Bapak ketawa?&#8221;</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8220;Malah <span> </span>kalianlah yang nampak seperti hantu, lantaran pakaian dan tubuh kalian belepotan lumpur,&#8221; lanjutnya.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ferdi dan Ajai tersipu malu. Diam-diam muncul kesadaran yang diiringi dengan penyesalan di hati mereka yang dalam.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Andaikan salah satu dari<span>  </span>kita <span> </span>mau sedikit mengalah, maka layang-layang cantik itu tentulah masih berada di tengah-tengah kita, lalu bisa dimainkan bersama,” ucap Ferdi. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>&#8220;Kau benar,&#8221; ucap Ajai seraya mengangguk.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Keduanya kemudian berangkulan dan saling memaafkan.*</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><span style="font-size:24pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman">***</font></span><i><font face="Times New Roman">Catatan : </font></i></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><i>Kasturi </i>= sejenis pohon mangga (maskot plora Kalimantan Selatan) <span> </span>pohonnya besar, namun buahnya kecil sebesar telur bebek, dengan bau yang harum dan rasa manis yang khas. Pohon ini tidak jarang dianggap masyarakat setempat dihuni oleh mahluk halus.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=11&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/gara-gara-layang-layang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emas Madinah</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/emas-madinah/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/emas-madinah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 09:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/emas-madinah/</guid>
		<description><![CDATA[Emas MadinahOleh : M. Hasbi Salim 
Bu Ijah selalu memamerkan gelang yang dibelinya di salah satu toko emas di Madinah kepada teman-temannya, termasuk kepada Bu Fatma, teman seregunya.  “Kalau kau mau membeli emas yang seperti ini. Nanti kutunjukkan tokonya,” ucapnya  dengan bangga.
            “Pergi haji masih bisa beli perhiasan pula, pastilah telah membawa banyak uang, Nich!” ucap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=9&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-size:26pt;"><font face="Times New Roman">Emas Madinah</font></span></b><b><span style="font-size:14pt;"><font face="Times New Roman">Oleh : M. Hasbi Salim</font></span></b><b><font face="Times New Roman"> </font></b></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><b><span style="font-size:24pt;line-height:200%;">Bu Ijah</span></b> selalu memamerkan gelang yang dibelinya di salah satu toko emas di Madinah kepada teman-temannya, termasuk kepada Bu Fatma, teman seregunya.<span>  </span>“Kalau kau mau membeli emas yang seperti ini. Nanti kutunjukkan tokonya,” ucapnya<span>  </span>dengan bangga.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Pergi haji masih bisa beli perhiasan pula, pastilah telah membawa banyak uang, <i>Nich</i>!” ucap Bu Fatma. “Kalau saya tidak mungkin,<span>  </span>soalnya …,” lanjutnya berat.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Ini sudah saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat, sebab yang beginian hanya ada di sini,” ucap Bu Ijah sambil mengeluarkan gelangnya yang terlindung lengan bajunya.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bu Fatma sesungguhnya sangat tertarik untuk membeli perhiasan seperti itu. Namun, ia menyadari sepenuhnya bahwa uangnya hanya<span>  </span>cukup membeli keperluan pokok dan sedikit oleh-oleh buat keluarga di kampung yang dengan susah payah mengantar keberangkatannya sampai bandara,<span>  </span>sehingga keinginannya untuk memiliki emas Madinah<span>  </span>segera dikuburnya dalam-dalam.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Di tengah malam yang sepi dan senyap tiba-tiba Bu Fatma tertawa renyah sendiri. Sementara Pak Jali, suaminya yang tadinya tidur nyenyak jadi<span>  </span>terjaga. “Ada apa, Bu?” tanya Pak Jali sambil membangunkan istrinya.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Anu, ….., anu ……,” ucap Bu Fatma sambil mengusap kedua matanya. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Apa?” desak Pak Jali.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Aku bermimpi,” ucap Bu Fatma.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Mimpi apa? Pakai ketawa segala!” desak Pak Jali.<span>  </span></font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bu Fatma terdiam sejenak. “Aku mimpi dibelikan sebuah cincin,” ucap Bu Fatma kalam sambil menatap lengan dan jari manisnya yang mulus dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan-lahan parit di sudut matanya mengalirkan air jernih yang kian deras. Namun, ia segera menyapu-habis air matanya. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Mendengar kata-kata istrinya, Pak Jali ikut sedih. Ia sadar bahwa istrinya sudah lama ingin memiliki perhiasan yang indah dan mahal. Namun, jangankan untuk membelikan sejumlah perhiasan, cincin kawinnya satu-satunya saja terjual buat pelunasan ONH (Ongkos Naik Haji).</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Maafkan saya yang tidak bisa membelikan perhiasan seperti suami-suami<span>  </span>lain,” ucap Pak Jali dengan suara berat.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tidak apa-apa. Saya malah minta maaf,” ucap Bu Fatma dengan penuh penyesalan.<span>  </span>“Bukan bermaksudku meminta sesuatu.”</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Suaminya hanya mengangguk dan diiringi dengan sedikit senyuman yang agak tawar.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Pak Jali dan istrinya kemudian berwudhu dan shalat tahajjud bersama. Pada sujud terakhir malam itu mereka memohon untuk<span>   </span>dikabulkan segala hajat baik untuk dunia maupun akhirat.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Siangnya, saat pulang dari Masjid Nabawi, mereka<span>  </span>mencari jalan pintas agar segera tiba di hotel dan bisa menyantap jatah makan siang yang biasanya telah disediakan, maklum perut mereka sudah mulai keroncongan. Namun, ternyata<span>  </span>mereka tersesat ke komplek pertokoan emas yang sangat luas. Mereka kepingin sekali keluar dari kawasan yang asing itu, namun tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Cahaya emas yang tajam, membuat mata Pak Jali dan Bu Fatma terasa perih. Para penjual emas beramai-ramai<span>  </span>menawarkan dagangannya. “ Murah, Tuan! Lihat dulu! Ini barang bagus!” ucap mereka dalam bahasa Indonedia yang patah-patah. Selain itu, ada sejumlah penjual yang gigih membujuk agar mereka<span>  </span>masuk ke tokonya walaupun hanya sekedar melihat-lihat aneka perhiasan yang dipajang di etalase dan dinding toko.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pak Jali mencoba mendekati seorang penjaga toko yang wajahnya ke-Indonesia-an untuk menanyakan jalan ke luar.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Jali!” ucap lelaki itu.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Maun!” sahut Pak Jali.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Keduanya berpelukan erat. Bu Fatma hanya melongo melihat kedua lelaki itu melepaskan rindu. Dua bersahabat yang pernah satu kelas di pondok pesantren itu sudah dua puluh tahun<span>  </span>tidak berjumpa.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Silakan! Mau pilih yang mana?” ucap Pak Maun.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Terima kasih. Kami tidak mencari emas,” ucap Bu Fatma sambil tersenyum malu. </font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Benar kata istri saya ini, kami bukannya mau mencari perhiasan ke sini, tetapi lantaran tersesat saja. Tolong tunjukkan jalan ke hotel Dar Assalam. Kami mau pulang,” pinta Pak Jali.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Soal pulang gampang. Nanti saya yang mengantarkan. Mungkin istrimu perlu perhiasan. Ambillah!”<span>  </span>Pinta Pak Maun.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Terima kasih. Lain kali saja. Jika kami sudah dapat rejeki banyak,”<span>  </span>ucap Pak Jali.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Jangan ditunda lagi. Sekarang juga. Tidak perlu dibayar,” ucap Pak Maun. “Ambillah!” desaknya.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Ini milikmu?” tanya Pak Jali.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Ya,” ucap Pak Maun dengan senyum ceria.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bu Fatma mengambil sebuah gelang emas yang bentuknya <span> </span>persis seperti milik Bu Ijah. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jangan yang itu,” ucap Pak Maun.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa?” tanya Bu Fatma keheranan.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Itu bukan emas. Itu ‘emas-emasan’ saja,” jelas Pak Maun sambil tersenyum geli. </font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bu Fatma semakin tidak mengerti.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Yang sebelah ini yang asli,” ucap Pak Maun sambil mengambilkan dua buah gelang, sebuah kalung dan seutas cincin yang sangat indah.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bu Fatma menerimanya dengan senang hati.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Pak Jali dan Bu Fatma pulang dengan gembira, apalagi Pak Maun mengantarnya sampai ke pintu hotel setelah sempat mampir di sebuah restauran. Dan mengecap soto Banjar kesukaan mereka.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di depan hotel. Bu Ijah menyapa Pak Jali dengan akrab.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Di mana kalian berkenalan?” tanya Bu Fatma.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>“Bu Ijah ini kan sering belanja di toko saya,” jelas Pak Maun sambil tersenyum ramah.</font></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bu Ijah tersenyum pula. Namun, tiba-tiba ia cemberut ketika melihat perhiasan yang dipakai Bu Fatma.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Katanya tidak punya uang,” ucap Bu Ijah kian sewot.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Punya, tapi hanya sedikit,” ucap Bu Fatma.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sedikit? Tapi, kok bisa beli emas seperti itu!” Bu Ijah menunjuk gelang dan cincin yang dipakai Bu Fatma.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Oh, ini. Dikasih Pak Maun,” jawab Bu Fatma sambil tersenyum pada Pak Maun yang ada di hadapannya.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dikasih!?” Bu Ijah penasaran.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya,” tegas Bu Fatma.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Terus terang saja. Pak Jali ini sangat berjasa pada saya, yaitu membantu<span>  </span>mengurus KTP di kelurahan saat mau berangkat <i>turis</i> ke sini. Sekarang, alhamdulillah usahaku sebagai penjual emas yang sukses di sini. Mumpung bertemu, wajarlah saya memberikan yang secuil ini sebagai ungkapan terima kasih,” cecar Pak Maun sambil tersenyum lantaran teringat masa silam.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dengan wajah cemberut Bu Ijah diam seribu bahasa. Lalu, pergi tanpa pamit.<span style="font-size:24pt;line-height:200%;">*<span>  </span></span></font></p>
<p align="center" style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">hasbi.salim@yahoo.co.id</font></p>
<p align="center" style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Salam buat Sobat Bacco di Tanjung</font></p>
<p><b><span style="font-size:26pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></b><b><span style="font-size:26pt;line-height:200%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></b><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=9&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/emas-madinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/hello-world/</link>
		<comments>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 08:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasbisalim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=1&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hasbisalim.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hasbisalim.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hasbisalim.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hasbisalim.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hasbisalim.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hasbisalim.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hasbisalim.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hasbisalim.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hasbisalim.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hasbisalim.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hasbisalim.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hasbisalim.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hasbisalim.wordpress.com&blog=3319905&post=1&subd=hasbisalim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hasbisalim.wordpress.com/2008/03/30/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5adc90da2d6d2dedb1db3fc36f984d39?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hasbisalim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>