Kiat Lulus UAN

8 04 2008

Oleh : Drs. H. M. Hasbi Salim*

*Guru SMAN 1 Amuntai dan tenaga edukatif STIQ, STIA, STIPER Amuntai

 

Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, hanya dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga perjalanan hidup, karier bahkan masa depan anak-anak bangsa yang bersatus pelajar demi mengukir masa depan yang gemilang, yang imbasnya  bukan hanya untuk pribadi siswa semata, tetapi juga  keluarga, masyarakat dan bangsa.

            Tulisan singkat dan ringan ini mencoba mengangkat kiat-kiat lulus dalam UAN, melalui jurus-jurus religius atau pendekatan keagamaan, sebab agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang sangat peduli pada persoalan-persoalan umat-Nya. 

Ada bebrapa langkah penting agar kata “lulus” benar-benar dapat diraih dengan  memuaskan secara lahir dan batin. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut.

1. Niat yang Tulus

            Nabi bersabda; “Segala sesuatu itu akan dinilai sesuai dengan niatnya,” Niat ternyata selain memberikan arahan yang jelas bagi seseorang dalam melakukan sesuatu, juga merupakan pendorong (motivator) yang sangat dahsyad. Yang pada gilirannya mampu memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara efektif dan efesien. Termasuk dalam konteks ini adalah mengawali kegiatan UAN dengan menyebut Nama Allah (membaca basmalah).

2. Berusaha Semaksimal Mungkin

            Hukama (orang bijak)  mengatakan: “Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapat (sukses). Dalam hal bersungguh-sungguh ini, ibarat orang yang ingin mendapatkan ikan, jangan hanya memasang satu alat perangkap saja, tetapi multi alat, seperti; memasang jaring, lukah, langit-langit di tempat-temp-at strategis dan lain-lain. Begitu pula dengan kegaiatan persiapan UAN dengan berbagai kegiatan seperti; belajar tambahan, latihan penyelesaian soal, mengintensipkan belajar individu dan kelompok, try out dan sebagainya.

2. Melaksanakan Kewajiban

Pada dasarnya ada dua kewajiban kita di dunia ini, yaitu; kewajiban vertikal dan kewajiban horizontal. 1) kewajiban yang bersifat vertical, yaitu kewajiban kepada sang pencipta (Allah SWT) dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Dalam hal ini kita perlu melaksanakan ibadah secara disiplin, misalnya selalu shalat dengan lengkap,  di awal waktu bahkan berjamaah.  2) kewajiban bersifat horizontal, misalnya kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dan guru (orang tua di sekolah), menghormati sesama dan lain-lain.

2. Membayar Utang

Membayar utang yang dimaksud di sini antara lain; yang bersifat material (utang uang atau barang) dan  yang bersifat spiritual, dalam hal ini, seperti; utang ibadah, misalnya (meng-qadha shalat dan puasa yang pernah ditinggalkan baik lantaran alasan syara’ (uzur) atau malah yang telah disengaja dilakukan. Jika kita mempunyai janji, maka sebaiknya segera ditunaikan. Bukankah janji itu utang juga?

 3. Bershalawat atas Nabi

Menurut para ulama bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. adalah salah satu kunci sukses dalam hidup. Oleh karena itu, banyak-banyaklah bershalat untuk beliau. Bukankah Tuhan, Yang Maha Kuasa dan para malaikat, yang mulia saja bershalawat untuk beliau?

Lebih jauh dari itu,  menghidupkan sunnah dalam aktivitas sehari-hari  merupakan manivestasi dari shalawat  pula. Malah ini lebih tinggi nilainya di sisi Tuhan dan manusia.

4. Meningkatkan Ibadah Khusus

Banyak ibadah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita, yang tujuannya memang dikhususkan untuk pemohonan sesuatu,  misalnya; 1). shalat dhuha agar dibukakan pintu rejeki, ini merupakan gambaran dari isi doa shalat dhuha. Yang dimaksud rejeki di sini tentu saja tidak sebatas harta-benda saja, tetapi juga yang berupa  kesehatan, kenyamanan, kemudahan, kelulusan dan sebagainya, 2) shalat tahajud adalah untuk mendapatkan kedudukan yang terhormat (maqamam mahmuda), puasa senin-kamis (untuk membersihkan atau menenangkan jiwa) dan lain-lain.

5. Meningkatkan Sedeqah.

            Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sedeqah itu penolak bala.” Lalu apa hubungannya dengan UAN? Begini, setiap kejadian yang dapat membuat hati bersedih bisa dikatagorekan sebagai bala. Jika mengalami ‘tidak lulus’ orang akan sedih. Oleh karena itu ‘tidak lulus’ bisa dianggap sebagai ‘bala’. Untuk menolak ‘bala’ ini bisa dilakukan melalui sedeqah atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, yang terkadang orang menyebutnya ‘keshalehan social’ misalnya memberikan uang jajan buat anak yatim dan orang yang tidak mampu dan lain-lain.

6. Ber-nazar

            Nazar adalah janji berbuat kebajikan kepada Allah. Jika suatu keinginan terkabul, misalnya jika lulus dengan hasil yang memuaskan akan berpuasa tiga hari, bersedeqah  dan sebagainya.  Nazar tentu saja untuk hal-hal yang baik-baik saja, tidak boleh untuk hal-hal yang bersifat maksiat, apalagi yang mengarah pada kemusyrikan. Misalnya, ber-nazar jika lulus akan meletakkan kembang di pohon besar yang dianggap ada penghuninya.

7. Berdoa

            Doa selain merupakan inti ibadah, doa juga merupakan inti dari keinginan seorang makhluk kepada sang Khalik (pencipta). Nabi menyidir bahwa orang yang enggan berdoa adalah pertanda kesombongan yang ada pada di hati seseorang.

            Doa bisa dilakukan secara individual, namun bisa pula secara kolektif bahkan kedua-duanya sekaligus. Dengan doa bersama maka kemungkinan dikabulkan pun akan lebih besar. Atas alasan inilah orang biasanya melakukan upacara doa bersama, zikir berjamaah untuk memohon kelulusan dalam UAN.

8. Hindari Maksiat/Dosa

            Hindarilah segenap kegiatan maksiat atau dosa, baik dosa kecil, lebih-lebih doa besar, misalnya; menonton tayangan yang tidak baik, pergaulan bebas, mengkonsumsi narkoba, durhaka pada orang tua, berbohong dan lain-lain.

            Dengan memperhatikan hal-hal di atas, saya yakin anda akan dapat meraih sukses UAN dengan gemilang dalam artian berhasil lulus secara duniawi dan  ukhrawi.

            The last but not least, Satu hal yang tidak boleh diabaikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan. Ada kalanya keinginan kita bertolak belakang dengan takdir dari Tuhan, misalnya kita ingin lulus, namun kenyataannya tidak. Untuk hal ini, maka kita haruslah ikhlas menerimanya dengan penuh kesabaran. Tidak perlu menggantungkan diri di ‘pohon lombok’, apalagi jika pohon lomboknya ada di atas loteng alias bunuh diri. Yakinlah bahwa semua itu mempunyai hikmah yang tersembunyi. Bukankah tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan Allah dengan sia-sia?

            Walaupun demikian, saya tetap berharap agar anda, teman anda, anak anda, atau tetangga, bahkan kita semua termasuk golongan orang-orang yang lulus dengan gemilang.

Mari berdoa; Allahumma yassir lana fil imtihan  Allahummaj’alna minannajihina fil imtihan. (Semoga kita dimudahkan dalam ujian. Dan, semoga kita termasuk orang yang sukses dalam ujian (sekolah, pekerjaan, karier, hidup dan lain-lain).

Amin!*

*Yang ingin memberi komentar silakan melalui

   Email : hasbi.salim@yahoo.co.id  Blog : hasbisalim.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

 





Beo Asing

3 04 2008

  (Cerpen Anak)                   

Beo Asing 

  A

ku  sudah lama ingin memiliki burung beo yang elok dan bisa bicara. Namun, rasanya tidak mungkin, sebab harganya sangat mahal.

Suatu hari, seekor burung beo tertabrak kaca jendela. Ia  terkulai di bawah jendela. Dengan mudah aku menangkapnya. Ia  bisa mengucapkan “Mat gii!” Kontan saja seisi rumahku sangat senang. Kecuali, ayah. Aku heran!

“Ayah lebih suka jika mendapatkan burung yang belum bisa mengucapkan apa-apa. Kasihan pemiliknya. Melatih burung tidak mudah, lho.” Ucap ayah.

 “Tetapi, kita  tidak mencuri-kan, Yah?” sanggahku.

“Bagaimanapun pemiliknya semula  lebih berhak.”

 “Beres, Yah. Akan aku serahkan jika pemiliknya mau mengambil,” ucapku.

 “Kau memang anak yang baik,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku.

Suatu siang, seorang lelaki tua datang ke rumahku. Ia mengaku sebagai  pemilik  burung itu. Aku hendak menyerahkan burung itu, walaupun hati agak berat.

“Tiba-tiba bel rumah dipencet. Seorang pemuda di depan pintu. Ia dipersilakan masuk. Setelah mengamati burung itu, dengan mantap ia mengaku burung itu  miliknya. Kontan saja kami  kaget.

“Berikan bukti bahwa  burung ini milikmu!” pinta ayah.

 “Jika ia mampu menyahut, maka ia milikku. Jika tidak, berarti bukan.” 

Kemudian, pemuda itu mengulurkan tangan. Burung itu melompat-mendekat.

How are you?” ucap pemuda itu.

Fine,” sahut burung beo seraya mengangguk-angguk.

Burung beo itu diserahkan kepada pemuda itu. Dan, pemuda itu memberi kami seekor burung beo muda.*  





Api! Api! Api!

3 04 2008

Cerpen Islami :Api! Api! Api!

Oleh : M. Hasbi Salim

 

   H

adi jarang sekali pulang kampung, maklum sejumlah kesibukannya sebagai PNS dan pimpinan beberapa organisasi kepemudaan di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari desa kelahirannya harus dilakoninya. Sehingga, bukan saja membuat ia jarang pulang kampung, tetapi pulang ke rumah pun tidak jarang lebih duluan itik ke kandangnya, kerbau ke  kalang-nya dan elang ke sarangnya.

            Ia biasanya menyempat-nyempatkan pulang kampung pada saat  penataran atau lagi melaksanakan tugas tertentu dari organisasi di ibukota  provinsi (Banjarmasin), karena desanya yang konon tergolong ‘desa terpencil’  tidak terlalu jauh dari ibu kota provinsi.            Hadi akan bermalam semalam di kampung kelahirannya, sebab penataran yang seyogyanya dilaksanakan selama satu minggu  oleh panitia pelaksana jadwalnya dipadatkan, maklum bertepatan dengan tibanya bulan Ramadhan.            Sambil tersenyum Hadi menaiki ojek yang akan mengantarnya ke kampung halamannya. Ia teringat ketika lima belas tahun yang lalu. Saat malam-malam di  bulan Ramadhan. Menyenangkan! Sebab, ia dan teman-temannya beramai-ramai pergi ke surau kecil yang tidak jauh dari rumahnya.               Biasanya, seminggu sebelum Ramadhan tiba, surau Ar Raudhah sudah ‘dimandii’ dan ‘didandani’, hingga bersih dan indah. Untuk mengantisipasi membludaknya ‘jamaah musiman’, maka di eper surau dihamparkan karpet rotan (lampit) sebagai alas, dibentangkan  terpal sebagai atap dan spanduk bekas  sebagai dinding. “Nek! Paman Hadi datang!” Seru Alfi.Bu Hj. Zainah yang dipanggil Alfi “Nenek!” segera menghentikan pekerjaannya dan membersihkan tangannya yang belepotan adonan bingka. Ia sebenarnya tidak terkejut mendengar kehadiran anak sulungnya itu, walaupun  secara mendadak. Hadi memang tidak mau merepotkan ibunya yang single parent dan adik-adiknya. Kalau mereka tahu ia akan pulang, pastilah mereka akan menyambutnya dengan berbagai acara istimewa, seperti mempersiapkan makanan ‘gangan karuh’ dan minuman es cendol kesukaannya. Setelah mengucapkan salam, Hadi langsung menemui ibunya dan mencium tangan perempuan tua yang sudah mulai keriput itu tanpa ragu-ragu. Perbincangan dua-beranak itu pun mengalir bagaikan air hujan yang lebat, maklum banyak berita dan cerita yang hendak disampaikan. ‘Curhat’ lagi! Saat senja tiba. Hadi bergegas pergi ke surau untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ia heran melihat surau yang nampak sepi. Suasana gelap lantaran hanya disinari lampu pijar 5 watt sebanyak dua buah. Ini pemandangan yang sangat kontras jika dibanding dengan rumah-rumah penduduk yang diterangi  ratusan watt.“Dulu, surau menggunakan dua buah lampu pitromak, namun cahayanya jauh lebih terang dari ini,” kenang Hadi. “Belum lagi sejumlah obor dan lampu tembok yang sengaja ditempatkan di tepi jalan.Kini, listrik sudah masuk desa,  aneka benda elektronik bukan barang mewah lagi, parabola bertengger hampir di setiap rumah,  tak terkecuali sebuah rumah tua yang ada di ujung desa. Tower tempat penyangga antena  telepon selular pun berdiri dengan angkuh  di sana-sini.Kok, sepi amat?” Hadi membatin. Hadi kembali ke rumah dan bergegas menemui ibunya yang hendak menyusulnya.“Sekarang ada berapa surau di kampung kita ini?’’ tanya Hadi.Kok, pertanyaanmu aneh begitu, Di?” Ibunya balik bertanya. “Sejak zaman kamu kecil dulu sampai sekarang, bahkan mungkin nanti tetap satu saja.” “Lalu, ke mana orang-orang kampung pada jam begini,” tanya Hadi. “Entahlah!” jawab Bu Zainah.“Tidak tahu!?” suara Hadi meninggi dangan mata terbelalak.“Maksud Ibu, sekarang mereka kira-kira ada di rumah masing-masing, tetapi, Ibu tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan,” jelas Bu Zainah. “Kenapa kamu…?” Astaghfirullahul azhiim!” Hadi sadar. “Yang ditanyakan soal orang lain, kenapa aku emosi kepada ibuku sendiri?” lanjutnya di hati. “Maafkan Hadi, Bu,” ucap Hadi. “Tidak apa-apa,” jawab Bu Zainah maklum.Setelah melaksanakan shalat magrib, Hadi melangkah ke lorong desa menelusuri jalan setapak yang rumputnya sudah hampir menutupi seluruh badan jalan.Di sebuah rumah megah yang bercat ungu terdengar oleh Hadi orang-orang tertawa terbahak-bahak. Dari balik gurden yang sedikit tersingkap ia melihat ada beberapa orang lelaki dewasa sedang  nonton televisi  chanel  luar negeri. Di ruang tamu,  seorang pemuda sedang mengotak-atik laptop, sepertinya ia lagi chatting. Di ujung beranda rumah seorang remaja putri senyum-senyum sendiri, barangkali ia sedang ber-SMS ria. Di bebangkuan depan rumah dua orang ABG  menggoyang-goyangkan kepala, mereka sedang menikmati musik melalui  head set yang menempel di telinganya. Nampak lucu sekali! Bagaikan dua buah pohon yang diterpa angin ke sana-ke mari, sebab satu head set mereka pakai berdua. “Goyang terus!” ucap Hadi seraya meninggalkan tempat itu. Kedua ABG itu kian tenggelam dalam keasyikan musik rok yang non-stop.Hadi kembali ke surau. Di halaman surau nampak sejumlah anak kecil berlari-larian ke sana–ke mari. Tiba-tiba muncul dua sosok lelaki yang cukup dikenalnya, Pak Marzuki, sang kaum yang merangkap imam surau, usianya sudah berkepala enam dan seorang pemuda bernama Fauzi, muazin tetap.  “Hadi! Kapan datang?” sapa Pak Marzuki dan Fauzi berbarengan.“Tadi siang,” jawab Hadi.“Ngomong-ngomong, mana jamaah yang lain?” tanya Hadi tak sabar menahan keingintahuannya yang menggumpal di dada. Ia mencoba mencari jawabannya dengan menyapu pandangannya ke segenap penjuru.“Yang penting malam ini ada tambahan jamaah,” ucap Pak Marzuki berdiplomasi.“Siapa?”“Ya, kamu.”Hadi geleng-geleng kepala. “Apakah anak-anak kecil yang bermain di luar sana itu akan ikut bergabung dalam shalat berjamaah nanti?” Tanya Hadi.“Mereka hanya shalat Isya, setelah itu bermain. Dan, akan datang lagi menemui Pak Mar seusai taraweh.”“Untuk apa?”“Meminta tanda tangan, untuk mengisi lembar laporan kegiatan Ramadhan yang diwajibkan sekolah.”Hadi termenung. Sesaat kemudian, ia melangkah  ke sebelah kanan surau. Seingatnya ada beduk lengkap dengan pemukulnya di situ. Lama ia mondar-mandir dengan mata liar. Ia juga ingat betul bahwa untuk mengumpulkan masyarakat desanya  cukup dengan memukul beduk yang ada di surau itu. Namun, benda yang dicarinya tidak terlihat sama sekali. “Mana beduk, Zi?” tanya Hadi.Fauzi nampak kebingungan.“Mana beduk?” ulang Hadi dengan suara meninggi.“Untuk apa?” ucap Fauzi. “Kau mau mengambil kulit kerbaunya untuk direbus, lalu dibikin cingor buat makan sahur?” ledek Fauzi.“Aku lagi serius, nich!” bentak Hadi.Melihat keadaan mulai memanas, Pak Marzuki mendekat. “Sabar, Nak Hadi!” ucap Pak   Marzuki. “Untuk apa kau mencari beduk?” lanjutnya sambil mengelus-elus bahu Hadi. “Untuk  mengumpulkan orang-orang agar shalat berjamaah di surau ini bersama-sama,” ucap Hadi.“Hadi! Hadi!” ucap Pak Marzuki geleng-geleng kepala. “Kau rupanya benar-benar tidak tahu perkembangan masyarakat di sini lagi. Makanya kalau meninggalkan kampung halaman jangan lama-lama!”Hadi makin bingung. “Ada apa?” desaknya. “Begini, Di!” ucap Pak Marzuki penuh wibawa. “Di sini beduk sudah lama punah. Sebab sudah ada alat-alat komunikasi penggantinya yang lebih canggih, misalnya; pengeras suara, handpone, radio, stasion televisi mini bahkan internet. Dengan beberapa pencetan saja pesan sudah sampai ke tujuan, kenapa harus menggunakan beduk?” jelas Pak Marzuki.  Dengan mata yang memerah Hadi melangkah ke depan paimaman, lalu meraih microfon dan berteriak, “Api! Api!! Api!” Kontan saja suara Hadi  menggema ke seluruh penjuru desa bahkan sampai ke desa tetangga.Saat kemudian terdengar orang-orang sibuk. Sejumlah kakek meraih sertifikat tanah. Beberapa orang pria menenteng ijazah keluarganya. Ibu-ibu berlari mengamankan kotak berisi emas-permata.Hadi mengambil sajadah-sajadah lusuh lalu membakarnya di eper surau. Lalu,  kembali meraih microfon dan berteriak. “Api! Api! Api Neraka!”Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru. Masing-masing mereka menenteng sebuah ember berisi air yang siap untuk memadamkan api.“Biarkan saja!” ucap Hadi lantang.  “Siapa yang berani memadamkan, akan kubunuh!” lanjutnya  sambil membusungkan dada.Orang-orang tertegun.Kepala desa mendekati Hadi. “Kalau dibiarkan,  surau kita yang satu-satunya ini akan ludes,” ucap Kepala Desa dengan suara memelas. “Sayang kan?”“Biar saja!” ucap Hadi. “Yang penting harta-benda kalian sudah aman!” cetusnya.“Tapi, kalau api  merembet ke rumah penduduk, maka rumahku dan rumah ibumu juga kena,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.Tiba-tiba empat orang polisi menangkap Hadi. Lalu, membergol dan menyeretnya.“Jika kalian masih memerlukan surau, padamkanlah! Tetapi, jika tidak, biarkan saja!” ucap Hadi sesegukan dengan airmata yang kian deras.*** Rumpiang, 11 Ramadhan 1428 H. e-mail : hasbi.salim@Yahoo.co.id                                                                   Amuntai, 1 Oktober 2007                                                            Kepada Yth.                                                            Pengasuh Rubrik Seni dan Budaya                                                            Banjarmasin Post                                                            Di- BanjarmasinDengan hormat, Saya sangat gembira atas munculnya kembali DAHAGA di media ini. Sebagai tanda suka cita, saya kirim sebuah cerpen dengan judul : Api! Api! Api!Besar harapan saya kiranya cerpen ini bisa dipublikasikan.Terus terang saya sudah mengirim cerpen ini ke media ini melalui fax dan email. Namun, khawatir kalau gagal, maka saya kirim melalui surat kembali.Terima kasih. Wassalam, M. Hasbi Salim                           Amuntai, 1 Oktober 2007                                                            Kepada Yth.                                                            Pengasuh Rubrik Cerpen                                                             Radar Banjarmasin                                                            Di- BanjarbaruDengan hormat, Mengingat fax dan email saya bermasalah maka saya kirim melalui surat cerpen saya yang berjudul : Kucing dalam KarungBesar harapan saya kiranya cerpen ini bisa dipublikasikan.Terima kasih.  Wassalam, M. Hasbi Salim 





Durian Lampini

3 04 2008

Oleh : M. Hasbi Salim 

A

ku paling suka buah Durian. Kebetulan kami mempunyai beberapa pohon, yang tumbuh jauh di belakang rumah. Pohon-pohon ini merupakan peninggalan kakekku beberapa tahun yang silam. Dengan adanya pohon-pohon tersebut, maka  setiap musim durian tiba kami dapat menikmati buah-buah “durian lampini” tanpa harus membeli.

“Durian lampini” adalah sebutan yang diberikan oleh  orang-orang kampungku terhadap buah durian yang sangat matang di pohon, biasanya ia jatuh ke tanah dengan sendirinya lantaran tangkainya yang sudah mengering.

Mendengar orang menyebut ‘durian lampini’, air liurku langsung pecah, sebab terbayang baunya yang menyengat hidung, isinya yang  lembut yang sering terlihat dari  buah yang merekah, rasanya yang sangat manis lantaran benar-benar matang. Bukan karena ‘karbitan’ atau perangsang.

Untuk mendapatkan buah-buah durian lampini yang lezat pada musim buah biasanya  tinggal berjalan-jalan saja ke kebun durian di pagi hari, sebab  buah-buah yang sangat matang itu biasanya berjatuhan ke tanah pada malam hari lantaran dihinggapi mangsa seperti burung, kalung, dan lain-lain.

Kalau berjalan-jalan di bawah pohon durian, aku tidak lupa mengenakan helm untuk keamanan batok kepala. Maklum, kadang-kadang buah sebesar kepala itu jatuh secara tiba-tiba. Aku tidak perduli  dikata-katai teman-teman  robot nyasar. “Demi keamanan,” timpalku.

Namun, aku heran kenapa akhir-akhir ini jarang sekali menemukan buah-buah durian lampini di bawah pohon, padahal buah-buah matang yang tadinya banyak  menggelantung di atas pohon,  kini tinggal sedikit.  Apakah dibawa kalung atau burung? Tidak mungkin, karena buahnya berat. Dipetik ayah? Ah, mustahil, sebab setahuku ayah tidak berani  lagi naik pohon, sejak lima tahun yang lalu, lantaran terjatuh  dari pohon rambutan.

Pada suatu sore, ayah melenggang masuk rumah sambil menenteng dua biji buah durian lampini. Begitu melihatnya, aku segera merebut durian yang ada di tangannya.    Buah-buah itu hampir saja jatuh ke kaki ayah. Ayah menggidik membayangkan duri-duri tajamnya menancap di kaki dan mengeluarkan cairan merah yang segar dan berbau amis.

“Sabaran sedikit, kenapa, sih?” ucap ayah seraya menyerahkan buah durian ke tanganku.

“Maaf, Yah,”  ucapku. “Abis aku sudah lama merindukan buah-buah seperti ini,” lanjutku.

Buah-buah durian lampini itu segera kubelah.  Ayah dan ibu ikut menyantapnya dengan lahap.

“Enak sekali durian ini, Yah,” ucapku dengan suara tak sempurna lantaran mulutku terganjal biji durian yang sedang kukecup berulang-ulang. Ayah  menatapku seraya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

“Persis durian milik kita,” ucap ibu spontan dengan mata yang terpejam-pejam karena merasakan lebih dalam kelezatannya.

“Ya,” sambarku. Aku sebenarnya hendak mengatakan itu, tetapi duluan ibu.  “Beli di mana, Yah?”  tanyaku kemudian.

“Di pasar,” jawab ayah seraya tersenyum.

Melihat senyum ayah,  aku ragu dengan kata-katanya. “Ayah berbohong!” ucapku.

“Pasti ini buah durian yang tumbuh di belakang rumah,” ucap ibu mendukungku. “Dari kulitnya aku sudah curiga. Setelah merasakan kelezatannya, aku menjadi yakin,” tambahnya.

“Ngaku saja, Yah,” rayuku. “Biar hukumannya tidak berat. Betul kan, Bu?” ucapku sambil mencolek bahu ibu. Ibu tersenyum.

“Emangnya ayah pencuri, apa? Diintrogasi begitu,” ayah marah.

“Cuma bercanda, Yah. Masa diambil hati,” ucap ibu lembut.

“Ya, kami hanya bercanda,” ucapku penuh penyesalan. “Maaf! Maaf!”

“Oke, oke. Aku ngerti,” ucap ayah sambil tersenyum, pertanda ia tidak marah sungguhan.

Kemudian ayah mendekati aku dan ibu.

“Begini,” ucap ayah serius. Kemudian ayah menceritakan panjang lebar bahwa buah-buah durian lampini itu memang dibelinya di pasar buah tradisional. Ketika itu tak sengaja matanya tertumbuk pada setumpuk buah durian yang digelar seseorang di tepi jalan. Ia langsung tertarik, lalu mendekatinya. Kemudian, memegang dan menciumnya. Ia kian tertarik melihat isinya yang sedikit tampak dari sela-sela kulitnya yang merekah. Hal itu mengingatkannya pada buah-buah durian lampini miliknya yang sering disantapnya pada tahun-tahun yang lalu.

“Ini pastilah  jenis buah durian Bangkok,” ucap ayah dengan yakin kepada penjual durian.

“Saya kurang tahu jenis-jenis  buah durian, Pak. Soalnya saya beli dari seseorang juga. Itu dia orangnya,” ucap penjual durian itu sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada seorang  pemuda yang berbadan jangkung dan berkumis, yang tidak jauh dari  tempat itu.

Mendengar pembicaraan ayah dan penjual buah, pemuda itu menoleh sejenak, kemudian mempercepat langkahnya, hingga ditelan kerumunan manusia yang kian berdatangan dari berbagai penjuru. 

Pada suatu hari, ayah membuat sebuah rencana yang kusebut ‘Operasi Durian Lampini’. Aku tentu saja senang dilibatkan dalam operasi itu, sebab memang sejak duduk di Sekolah Dasar aku tertarik hal-hal yang bersifat detektif sampai saat aku sudah duduk di SLTA ini. Mungkin ini dampak dari  kesukaanku menonton film detektif di televisi.

“Apa yang harus aku lakukan, Yah?”  tanyaku ragu.

“Mudah saja,” ucapnya sambil tersenyum. “Tunggu saja perintah komandan!”  lanjut ayah sambil menunjuk dadanya dengan ibu jarinya berulang-ulang.

Aku tersenyum melihat ayah yang  nampak gagah,  padahal ia sudah  dimakan usia setengah abad. Tiba-tiba ia kelihatan seperti polisi-polisi yang mengatur lalu-lintas pengguna jalan di persimpangan.

                                                            ***

Pada suatu dini hari, aku,  ayah dan  Pak  Gunadi, teman akrab ayahku pergi ke kebun durian. Kami membawa  peralatan yang telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya.

Ketika mulai memasuki kawasan kebun durian bulu kodokku merinding. Lantaran terbayang di benakku ular berbisa yang melingkar-lingkar dan sewaktu-waktu siap menyerang dengan biasanya jika diganggu. Apalagi jalan yang dilalui penuh rumput dan semak-semak yang cukup tebal. Biasanya tempat-tempat seperti itu merupakan tempat yang nyaman baginya. Aku melangkah jua di belakang ayah sambil mengusir perasaan was-was.

Setibanya di kebun durian, aku disuruh ayah bersembunyi di bawah pohon dan melakukan sesuatu jika isyarat dibunyikan. Sementara, ayah melangkah ke bawah pohon yang lain. Binatang-binatang kecil yang mencium bau badanku mulai berdatangan dan hinggap. Duh, gatalnya! Rupanya mereka mulai ‘usil’ menggambil darah yang ada di tubuhku. Aku hanya diam, tidak berani berbuat apa-apa, sebab takut berisik yang mengakibatkan gagalnya rencana.

Terdengar desah dedaunan kering yang diinjak seseorang. Tubuhku mulai gemetar. Kupeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku sambil berusaha mengendalikan diri. Dari sinar bulan sabit yang tembus di sela dedaunan terlihat kelebat seseorang berjalan di bawah pohon lalu naik ke pohon dengan cepat sekali.

Pada tepukan tangan ketiga yang dilakukan ayah, aku segera melakukan tugas yang telah diberikan, yaitu memencet tombol kecil yang ada di tanganku. Kontan saja larm berbunyi melengking dan beberapa buah lampu nion yang di panjang di beberapa dahan pohon menyala terang sekali. Nampak Mang Udin dan dua orang pemuda desa lainnya kaget luar biasa.

 “Menyerahlah! Tempat ini sudah dikepung!” ucap ayah sehabis suaranya.

Mendengar suara ayah yang menggelegar, para pencuri itu urung lari. Mereka  semua adalah para pemuda desa yang putus sekolah, yang pengangguran.

 “Maafkan kami, Pak,” ucap Mang Udin menyembah-nyembah di kaki ayah diikuti oleh  temannya.

“Kalian saya maafkan. Tapi, proses hukum tetap dijalankan,” tegas ayah.

“Betul!” ucap Pak Haji Gurdan. “Saya setuju itu!” lanjutnya tegas. “Mari ikut kami!”

Para pencuri sangat kaget melihat Pak Gurdan, seorang tokoh masyarakat pemilik kebun durian yang juga pernah mereka curi  ada di situ.

Para pencuri buah-buah durian itu tidak mengira kalau modus pencurian yang sangat halus itu bisa diketahui. Pencurian itu dilakukan dengan cara; salah seorang naik ke atas pohon untuk memetik buah-buah yang matang dengan perlahan, kemudian mengikat dan menurunkannya dengan tali satu persatu. Sementara yang lainnya menadahkan karung di bawah pohon. Sehingga buah-buah itu bisa langsung mereka masukkan.

Para pencuri itu berlotot meminta agar tidak dibawa ke polisi.

“Begini saja,” ucap ayah kepada keempat pencuri tersebut.

“Bagaiman, Pak?” desak Mang Udin. Ia  nampak antusias ingin mengetahui jalan keluar yang diberikan ayah. Ia  pikir ayah akan memberikan sanksi yang tidak berat.

“Kalian kami minta mengembalikan buah-buah yang telah dicuri.”

“Sudah terjual habis, Pak,” aku Mang Udin dengan suara memelas.

“Kalau begitu serahkan uangnya,” desak ayah.

“Sudah habis, Pak.”

“Buat apa?”

“Buat judi, Pak,”  ucap Mang Udin malu-malu.

“Seandainya kalian mencuri hanya untuk dimakan sendiri, niscaya akan kami relakan tanpa sanksi. Tetapi, lantaran seperti itu, sanksi tetap kami berikan,” ucap ayah.

Para mencuri itu menunduk sedih. Butir demi butir air mata mereka jatuh ke tahan. Lama-lama mengguyur bagaikan hujan  yang lebat.

Semua diam membisu.

“Begini saja,” ucap ayah dengan kalam.

Para pencuri itu bergegas memperhatikan kata-kata ayah dengan saksama.

“Kalian kami beri sanksi, memetikkan sisa-sisa buah-buah yang ada di pohon sampai selesai tanpa upah,”  ucap ayah.

Para pencuri itu pasrah  dan menerima  sanksi itu, sebab hukuman seperti itu mereka pikir sangat ringan. Mereka pun mengucapkan terima kasih berulang-ulang diberi sangsi seperti itu.

Namun ternyata, baru tiga jam memetik buah-buah yang ada di atas pohon tanpa istirahat, mereka sudah hampir pingsan lantaran kelelahan, apalagi setelah mendengar bahwa para pemilik pohon durian lainnya yang pernah mereka curi berdatangan dan  menuntut untuk dipetikkan secara gratis pula.

Orang-orang ternyata tidak tega melihat para pencuri yang kian lemas lantaran kelelahan luar biasa. Mereka diperbolehkan pulang setelah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi di kemudian hari.

Kini kami dapat menikmati buah-buah durian lampini kembali setiap musim buah tiba. *E-mail : hasbi.salim@yahoo.co.id

Bloger : hasbisalim.wordpress.com

   





Lulus UAN melalui Jurus Religius

3 04 2008

Oleh : Drs. H. M. Hasbi Sali*

 Pendahuluan

 Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2008 untuk SD, SMP dan SMA sederajat benar-benar sudah di depan mata, sudah dalam hitungan hari. Wajar saja jutaan orang mengarahkan perhatiannya pada pegelaran besar ini, Mengapa demikian? Sebab, inilah salah satu anak tangga perjalanan hidup, karier bahkan masa depan anak-anak bangsa yang bersatus pelajar demi mengukir masa depan yang gemilang, yang imbasnya bukan hanya untuk pribadi siswa semata, tetapi juga keluarga, masyarakat dan bangsa. Kita tentunya sudah tahu semua bahwa kriteria kelulusan anak-anak sekolah di tanah air kita dari tahun ke tahun bukannya kian mudah, tetapi kian berat, dengan tanda jumlah mata pelajaran bertambah yang banyak, standar nilai kelulusan yang kian tinggi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat adanya tuntutan zaman pada era globalisasi yang kian kompleks. Uji coba UAN telah dilaksanakan, hasilnyapun sudah diketahui pula. Terlontarlah kata, memprihatinkan!” Karena hasilnya yang jauh dari menggembirakan. Inikah gambaran hasil UAN tahun ini? Wallahu a’alam! Tulisan singkat dan ringan ini mencoba mengangkat kiat-kiat lulus dalam UAN, melalui jurus-jurus religius atau pendekatan keagamaan, sebab agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang sangat peduli pada persoalan-persoalan umat-Nya. Jurus-jurus Lulus : Ada bebrapa langkah penting agar kata “lulus” benar-benar dapat diraih dengan memuaskan secara lahir Dan batin. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut. 1. Niat yang Tulus Nabi bersabda; “Segala sesuatu itu akan dinilai sesuai dengan niatnya,” Niat ternyata selain memberikan arahan yang jelas bagi seseorang dalam melakukan sesuatu, juga merupakan pendorong (motivator) yang sangat dahsyad. Yang pada gilirannya mampu memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara efektif dan efesien. 2. Berusaha Semaksimal Mungkin Hukama (orang bijak) mengatakan: “Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapat (sukses). Dalam hal bersungguh-sungguh ini, ibarat orang yang ingin mendapatkan ikan, jangan hanya memasang satu alat perangkap saja, tetapi multi alat, seperti; memasang jaring, lukah, langit-langit di tempat-temp-at strategis dan lain-lain. Begitu pula dengan kegaiatan persiapan UAN dengan berbagai kegiatan seperti; belajar tambahan, latihan penyelesaian soal, mengintensipkan belajar individu dan kelompok, try out dan sebagainya. 2. Melaksanakan Kewajiban Pada dasarnya ada dua kewajiban kita di dunia ini, yaitu; kewajiban vertikal dan kewajiban horizontal. 1) kewajiban yang bersifat vertical, yaitu kewajiban kepada sang pencipta (Allah SWT) dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Dalam hal ini kita perlu melaksanakan ibadah secara disiplin, misalnya selalu shalat dengan lengkap, di awal waktu bahkan berjamaah. 2) kewajiban bersifat horizontal, misalnya kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dan guru (orang tua di sekolah), menghormati sesama dan lain-lain. 2. Membayar Utang Membayar utang yang dimaksud di sini antara lain; yang bersifat material (utang uang atau barang) dan yang bersifat spiritual, dalam hal ini, seperti; utang ibadah, misalnya (meng-qadha shalat dan puasa yang pernah ditinggalkan baik lantaran alasan syara’ (uzur) atau malah yang telah disengaja dilakukan. Jika kita mempunyai janji, maka sebaiknya segera ditunaikan. Bukankah janji itu utang juga? 3. Meningkatkan Ibadah Sunat Banyak ibadah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita, yang tujuannya memang dikhususkan untuk pemohonan sesuatu, misalnya shalat dhuha (untuk dibukakan pintu rejeki), shalat tahajud (untuk mendapatkan kedudukan yang terhormat), puasa senin-kamis (untuk membersihkan atau menenangkan jiwa) dan lain-lain. 4. Meningkatkan Sedeqah. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sedeqah itu penolak bala.” Lalu apa hubungannya dengan UAN? Begini, setiap kejadian yang dapat membuat hati bersedih bisa dikatagorekan sebagai bala. Jika mengalami ‘tidak lulus’ orang akan sedih. Oleh karena itu ‘tidak lulus’ bisa dianggap sebagai ‘bala’. Untuk menolak ‘bala’ ini bisa dilakukan melalui sedeqah atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, yang terkadang orang menyebutnya ‘keshalehan social’ misalnya memberikan uang jajan buat anak yatim dan orang yang tidak mampu dan lain-lain. 5. Ber-nazar Nazar adalah janji berbuat kebajikan kepada Allah. Jika suatu keinginan terkabul, misalnya jika lulus dengan hasil yang memuaskan akan berpuasa tiga hari, bersedeqah dan sebagainya. Nazar tentu saja untuk hal-hal yang baik-baik saja, tidak boleh untuk hal-hal yang bersifat maksiat, apalagi yang mengarah pada kemusyrikan. Misalnya, ber-nazar jika lulus akan meletakkan kembang di pohon besar yang dianggap ada penghuninya. 6. Berdoa Doa selain merupakan inti ibadah, doa juga merupakan inti dari keinginan seorang makhluk kepada sang Khalik (pencipta). Nabi menyidir bahwa orang yang enggan berdoa adalah pertanda kesombongan yang ada pada di hati seseorang. Doa bisa dilakukan secara individual, namun bisa pula secara kolektif bahkan kedua-duanya sekaligus. Dengan doa bersama maka kemungkinan dikabulkan pun akan lebih besar. Atas alasan inilah orang biasanya melakukan upacara doa bersama, zikir berjamaah untuk memohon kelulusan dalam UAN. 7. Hindari Maksiat/Dosa Hindarilah segenap kegiatan maksiat atau dosa, baik dosa kecil, lebih-lebih doa besar, misalnya; menonton tayangan yang tidak baik, pergaulan bebas, mengkonsumsi narkoba, berbohong dan lain-lain. Dengan memperhatikan hal-hal di atas, saya yakin anda akan dapat meraih sukses UAN dengan gemilang dalam artian berhasil lulus secara duniawi dan ukhrawi. Penutup The last but not least, Satu hal yang tidak boleh diabaikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan. Ada kalanya keinginan kita bertolak belakang dengan takdir dari Tuhan, misalnya kita ingin lulus, namun kenyataannya tidak. Untuk hal ini, maka kita haruslah ikhlas menerimanya dengan penuh kesabaran. Tidak perlu menggantungkan diri di pohon lombok, apalagi jika pohon lomboknya ada di atas loteng alias bunuh diri. Yakinlah bahwa semua itu mempunyai hikmah yang tersembunyi. Sungguh tidak ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan Allah dengan sia-sia. Walaupun demikian, saya tetap berharap agar anda, teman anda, anak anda, atau tetangga, bahkan kita semua termasuk golongan orang-orang yang lulus dengan gemilang. Mari berdoa; Allahumma yassir lana fil imtihan Allahummaj’alna minannajihina fil imtihan. (Semoga kita dimudahkan dalam ujian. Dan, semoga kita termasuk orang yang sukses dalam ujian (sekolah, pekerjaan, karier, hidup dan lain-lain). Amin!* *** *Email : hasbi.salim@yahoo.co.id Blogger : hasbisalim.wordpress.com Penulis Penulis dengan nama lengkap Drs, H. M. Hasbi Salim ini lahir pata tanggal 26 Juli 1963 di desa Rumpiang, kecamatan Aluh-Aluh, kabupaten Banjar, provinsi Kalimantan Selatan. Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Amuntai yang juga dosen tidak tetap pada STIQ, STIA, STIPER dan UT ini meraih predikat Guru Teladan 2 Tingkat Provinsi tahun 1994 dan Guru Berpristasi 3 Tingkat Provinsi tahun 2005. Saat mulai memasuki perguruan tinggi (Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, Jurusan Tadris Bahasa Inggris 1983-1988) berkenalan dengan dunia pers dan jurnalistrik melalui pendidikan dan latihan. Akhirnya aktif menulis di media massa dan dipercaya sebagai redaktor bulletin kampus Obor dan Mimbar Mahasiswa. Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1987-1988) ini pada pertengahan kuliahnya mulai menekuni dunia Karya Tulis Ilmiah. Ia beberapa kali menjuarai lomba karya tulis ilmiah antarperguruan tinggi tingkat provinsi, seperti Lomba Menulis tentang P4, KB, Kemahasiswaan dan lain-lain. Ketika awal bertugas sebagai guru (PNS), kegemaran menulisnya kian meningkat, antara lain; Harapan I dua kali berturut-turut dalam lomba Penulisan Naskah Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Depdiknas, Dirjen Jarahnitra, Jakarta tahun 1999 dan tahun 2000. Juara 2 tahun 2000 dan harapan 2 tahun 2005 dalam lomba Kreativitas Guru yang diselenggarakan oleh LIPI Jakarta. Pada suatu ketika saat presentasi karya tulis dalam suatu lomba, penulis disarankan oleh Bapak Drs. H. Yustan Azidin (Alm) (pendiri Banjarmasin Post) untuk terjun ke dunia fiksi dan nonfiksi. Setelah jatuh-bangun tujuh tahun lebih. Akhirnya berhasil sebagai juara harapan IV Nasional Penulisan Fiksi berupa Antologi Cerpen Anak tahun 2004 dan juara 2 tingkat nasional Penulisan Cerita Rakyat yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa tahun 2005. Juara 2 tingkat provinsi Penulisan Cerita Rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Tata Kota Kalimantan Selatan tahun 2007. Akhir-akhir ini penulis ini kian menggandrungi cerpen, sehingga pada dua tahun terakhir ini tidak kurang dari 100 cerpen sudah dihasilkan. Sebagian telah dipublikasikan pada Banjarmasin Post, dan Radar Banjarmasin, Tabloid Serambi Ummah dan lain-lain.majalah; Kartini, Al Kisah, Sahabat Pena, Mentari, Kids Fantasi, Asuh, Surat kabar Kompas, Buku yang telah diterbitkan dan dipublikasikan antara lain; Beternak Itik Alabio (nonfiksi), Adicita, Yogyakarta; tahun 2004, Kambang Barenteng (fiksi), Adicita, Yogyakarta; tahun 2004,. Misteri Pohon Kasturi (Antologi Cerpen Anak), Widya Duta, Bandung; tahun 2007 dan Dunia Sahabat (Antologi Cerpen Anak), Zikrul Hakim, Jakarta, tahun 2007.*





Gara-gara Layang-layang

30 03 2008

Oleh M. Hasbi Salim  

  S

ejak jam pelajaran terakhir dimulai,  Ferdi dan Ajai tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran lagi. Sebab, perhatian mereka terpaut pada sebuah layang-layang putus yang nyangkut di ujung ranting pohon kasturi di samping sekolah. Sebentar-sebentar mereka  mencuri-curi pandang pada layang-layang yang nampak terlihat melalui jendela yang terkuak, saat Pak Rudi masih ada di depan kelas.

            Begitu lonceng pulang sekolah dibunyikan,  Ferdi dan Ajai langsung berlarian   menerobos kerumunan siswa yang hendak pulang. Mereka mau mengambil  layang-layang tersebut.

            “Hii! Layang-layang itu milikku! Sebab, aku yang melihatnya lebih dahulu!” ucap Ferdi ketus sambil memegang bilah panjang untuk meraih layang-layang yang berayun-ayun karena ditiup angin.

            “Masa bodoh! Siapa yang dapat mengambilnya lebih dahulu, itulah yang berhak memilikinya!” sanggah Ajai tak kalah serunya sambil bergegas memanjat pohon dengan lincah.

            Ajai  kaget ketika melihat layang-layang yang hampir dapat diraihnya tiba-tiba  melayang ke bawah lantaran ranting pohon bergoyang. Ajai segera melompat turun tanpa menghiraukan resiko lagi. Usahanya ternyata tidak sia-sia. Ajai sempat menarik benangnya. Akibatnya layang-layang yang hampir jatuh ke tangan Ferdi kembali melambung ke atas.

            Baik Ferdi maupun Ajai sama-sama hendak memiliki sendiri layang-layang tersebut. Bahkan, tidak ada yang mau mengalah. Mereka nampaknya lebih suka layang-layang itu hancur di tangan jika tidak bisa medapatkannya. Persaingan untuk mendapatkan layang-layang itu pun kian memanas, bahkan sudah mengarah pada perkelahian yang sengit. Mereka tidak memperdulikan lagi hubungan  persahabatan yang telah lama terjalin. Ini benar-benar ibarat hujan sehari mengalahkan panas setahun.

Tiba-tiba Ferdi dan Ajai terperosok ke dalam sumur berlumpur. Kontan saja badan mereka penuh lumpur,  sementara layang-layang yang mereka perebutkan malah tergeletak di bibir sumur. Dan, saat mereka hendak naik ke tepi sumur, tiba-tiba seorang anak bertubuh gendut mendekat dengan berkacak pinggang.

“Stop! Stop! Tidak ada gunanya kalian berkelahi. Layang-layang itu milikku!” ucap anak itu dengan mata melotot. “Jika kalian tidak percaya, lihatlah sisa benang yang ada di tanganku ini,” lanjutnya.

            Ferdi dan Ajai lemas seketika. Mereka  tak berkutik di hadapan anak itu. Setelah memungut layang-layang itu dengan leluasa anak itu  kemudian melenggang pergi tanpa permisi.

            Lama Ferdi dan Ajai melongo seperti orang linglung. Sesaat kemudian, mereka saling berpandangan.

            “Kau yakin layang-layang tadi miliknya?” tanya Ferdi.

            “Kira-kira saja,” ucap Ajai ragu.

            “Rasa-rasanya, tidak,” ucap Ferdi sambil mengingat-ingat sesuatu.

            “Kenapa kau berpendapat begitu?” desak Ajai.

            “Soalnya benang yang ada di tangannya tidak sewarna dengan ujung benang yang terikat pada layang-layang,” ucap Ferdi.

“Ya, aku juga melihat itu,” ucap Ajai membenarkan.

 “Tapi, kenapa tadi, kita tidak  protes, ya?” Tanya Ferdi.

            “Barangkali kita terkena hipnotes,” jawab Ajai geleng-geleng kepala.

            “Ah, masa?” sanggah Ferdi.

            Ferdi dan Ajai  sepakat mengejar anak yang mengambil layang-layang itu untuk merebutnya. Namun, ia kian mempercepat langkahnya. Ketika mereka menyerunya dengan keras dan berberulang-ulang, ia malah pura-pura tidak mendengar dan berlari hingga ditelan semak-semak yang rimbun.

            “Jangan-jangan ia bukan anak manusia biasa,” ucap Ferdi dengan pikiran menerawang sambil menatap pohon-pohon kasturi yang besar-besar.

            “Ya, barangkali anak hantu penghuni pohon kasturi,” ucap Ajai ketakutan lantaran teringat cerita orang-orang yang mengatakan bahwa pohon kasturi yang besar tidak jarang menjadi tempat hantu bermukim.

“Ah, kamu percaya yang begituan?” sanggah Ferdi.

“Jadi kau tidak percaya hal itu?” desak Ajai.

“Ya,” ucap Ferdi.

Walaupun Ferdi berkata begitu. Namun,  diam-diam ia malah mengambil ancang-ancang untuk berlari mendahului Ajai, agar tidak tertinggal sendiri di kebun kasturi yang lebat itu. Apalagi hari kian gelap lantaran hari mulai mendung.

Tidak lama kemudian, keduanya lari terbirit-birit hingga sampai ke pintu gerbang sekolah. Di sini mereka bertemu Pak Rudiman, penjaga sekolah. Dengan berapi-api mereka   menceritakan peristiwa yang baru mereka alami kepada lelaki tua yang sudah puluhan tahun diam di lingkungan sekolah itu.

“Apa di sini ada hantu?” tanya Ajai ketakutan.

            “Saya rasa, tidak ada. Apalagi di siang bolong begini,” ucap Pak Rudiman seraya tertawa geli.

Kok! Bapak ketawa?”

“Malah  kalianlah yang nampak seperti hantu, lantaran pakaian dan tubuh kalian belepotan lumpur,” lanjutnya.

Ferdi dan Ajai tersipu malu. Diam-diam muncul kesadaran yang diiringi dengan penyesalan di hati mereka yang dalam.

“Andaikan salah satu dari  kita  mau sedikit mengalah, maka layang-layang cantik itu tentulah masih berada di tengah-tengah kita, lalu bisa dimainkan bersama,” ucap Ferdi.

            “Kau benar,” ucap Ajai seraya mengangguk.

Keduanya kemudian berangkulan dan saling memaafkan.*

  ***Catatan :

Kasturi = sejenis pohon mangga (maskot plora Kalimantan Selatan)  pohonnya besar, namun buahnya kecil sebesar telur bebek, dengan bau yang harum dan rasa manis yang khas. Pohon ini tidak jarang dianggap masyarakat setempat dihuni oleh mahluk halus.

    





Emas Madinah

30 03 2008

Emas MadinahOleh : M. Hasbi Salim 

Bu Ijah selalu memamerkan gelang yang dibelinya di salah satu toko emas di Madinah kepada teman-temannya, termasuk kepada Bu Fatma, teman seregunya.  “Kalau kau mau membeli emas yang seperti ini. Nanti kutunjukkan tokonya,” ucapnya  dengan bangga.

            “Pergi haji masih bisa beli perhiasan pula, pastilah telah membawa banyak uang, Nich!” ucap Bu Fatma. “Kalau saya tidak mungkin,  soalnya …,” lanjutnya berat.

            “Ini sudah saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat, sebab yang beginian hanya ada di sini,” ucap Bu Ijah sambil mengeluarkan gelangnya yang terlindung lengan bajunya.

Bu Fatma sesungguhnya sangat tertarik untuk membeli perhiasan seperti itu. Namun, ia menyadari sepenuhnya bahwa uangnya hanya  cukup membeli keperluan pokok dan sedikit oleh-oleh buat keluarga di kampung yang dengan susah payah mengantar keberangkatannya sampai bandara,  sehingga keinginannya untuk memiliki emas Madinah  segera dikuburnya dalam-dalam.

            Di tengah malam yang sepi dan senyap tiba-tiba Bu Fatma tertawa renyah sendiri. Sementara Pak Jali, suaminya yang tadinya tidur nyenyak jadi  terjaga. “Ada apa, Bu?” tanya Pak Jali sambil membangunkan istrinya.

            “Anu, ….., anu ……,” ucap Bu Fatma sambil mengusap kedua matanya.

            “Apa?” desak Pak Jali.

            “Aku bermimpi,” ucap Bu Fatma.

            “Mimpi apa? Pakai ketawa segala!” desak Pak Jali. 

            Bu Fatma terdiam sejenak. “Aku mimpi dibelikan sebuah cincin,” ucap Bu Fatma kalam sambil menatap lengan dan jari manisnya yang mulus dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan-lahan parit di sudut matanya mengalirkan air jernih yang kian deras. Namun, ia segera menyapu-habis air matanya.

            Mendengar kata-kata istrinya, Pak Jali ikut sedih. Ia sadar bahwa istrinya sudah lama ingin memiliki perhiasan yang indah dan mahal. Namun, jangankan untuk membelikan sejumlah perhiasan, cincin kawinnya satu-satunya saja terjual buat pelunasan ONH (Ongkos Naik Haji).

“Maafkan saya yang tidak bisa membelikan perhiasan seperti suami-suami  lain,” ucap Pak Jali dengan suara berat.

“Tidak apa-apa. Saya malah minta maaf,” ucap Bu Fatma dengan penuh penyesalan.  “Bukan bermaksudku meminta sesuatu.”

Suaminya hanya mengangguk dan diiringi dengan sedikit senyuman yang agak tawar.

            Pak Jali dan istrinya kemudian berwudhu dan shalat tahajjud bersama. Pada sujud terakhir malam itu mereka memohon untuk   dikabulkan segala hajat baik untuk dunia maupun akhirat.

            Siangnya, saat pulang dari Masjid Nabawi, mereka  mencari jalan pintas agar segera tiba di hotel dan bisa menyantap jatah makan siang yang biasanya telah disediakan, maklum perut mereka sudah mulai keroncongan. Namun, ternyata  mereka tersesat ke komplek pertokoan emas yang sangat luas. Mereka kepingin sekali keluar dari kawasan yang asing itu, namun tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh.

Cahaya emas yang tajam, membuat mata Pak Jali dan Bu Fatma terasa perih. Para penjual emas beramai-ramai  menawarkan dagangannya. “ Murah, Tuan! Lihat dulu! Ini barang bagus!” ucap mereka dalam bahasa Indonedia yang patah-patah. Selain itu, ada sejumlah penjual yang gigih membujuk agar mereka  masuk ke tokonya walaupun hanya sekedar melihat-lihat aneka perhiasan yang dipajang di etalase dan dinding toko.

Pak Jali mencoba mendekati seorang penjaga toko yang wajahnya ke-Indonesia-an untuk menanyakan jalan ke luar.

            “Jali!” ucap lelaki itu.

            “Maun!” sahut Pak Jali.

            Keduanya berpelukan erat. Bu Fatma hanya melongo melihat kedua lelaki itu melepaskan rindu. Dua bersahabat yang pernah satu kelas di pondok pesantren itu sudah dua puluh tahun  tidak berjumpa.

            “Silakan! Mau pilih yang mana?” ucap Pak Maun.

            “Terima kasih. Kami tidak mencari emas,” ucap Bu Fatma sambil tersenyum malu.

            “Benar kata istri saya ini, kami bukannya mau mencari perhiasan ke sini, tetapi lantaran tersesat saja. Tolong tunjukkan jalan ke hotel Dar Assalam. Kami mau pulang,” pinta Pak Jali.

            “Soal pulang gampang. Nanti saya yang mengantarkan. Mungkin istrimu perlu perhiasan. Ambillah!”  Pinta Pak Maun.

            “Terima kasih. Lain kali saja. Jika kami sudah dapat rejeki banyak,”  ucap Pak Jali.

            “Jangan ditunda lagi. Sekarang juga. Tidak perlu dibayar,” ucap Pak Maun. “Ambillah!” desaknya.

            “Ini milikmu?” tanya Pak Jali.

            “Ya,” ucap Pak Maun dengan senyum ceria.

            Bu Fatma mengambil sebuah gelang emas yang bentuknya  persis seperti milik Bu Ijah.

“Jangan yang itu,” ucap Pak Maun.

“Kenapa?” tanya Bu Fatma keheranan.

“Itu bukan emas. Itu ‘emas-emasan’ saja,” jelas Pak Maun sambil tersenyum geli.

Bu Fatma semakin tidak mengerti.

            “Yang sebelah ini yang asli,” ucap Pak Maun sambil mengambilkan dua buah gelang, sebuah kalung dan seutas cincin yang sangat indah.

            Bu Fatma menerimanya dengan senang hati.

            Pak Jali dan Bu Fatma pulang dengan gembira, apalagi Pak Maun mengantarnya sampai ke pintu hotel setelah sempat mampir di sebuah restauran. Dan mengecap soto Banjar kesukaan mereka.

Di depan hotel. Bu Ijah menyapa Pak Jali dengan akrab.

            “Di mana kalian berkenalan?” tanya Bu Fatma.

            “Bu Ijah ini kan sering belanja di toko saya,” jelas Pak Maun sambil tersenyum ramah.

            Bu Ijah tersenyum pula. Namun, tiba-tiba ia cemberut ketika melihat perhiasan yang dipakai Bu Fatma.

“Katanya tidak punya uang,” ucap Bu Ijah kian sewot.

“Punya, tapi hanya sedikit,” ucap Bu Fatma.

“Sedikit? Tapi, kok bisa beli emas seperti itu!” Bu Ijah menunjuk gelang dan cincin yang dipakai Bu Fatma.

 “Oh, ini. Dikasih Pak Maun,” jawab Bu Fatma sambil tersenyum pada Pak Maun yang ada di hadapannya.

“Dikasih!?” Bu Ijah penasaran.

“Ya,” tegas Bu Fatma.

“Terus terang saja. Pak Jali ini sangat berjasa pada saya, yaitu membantu  mengurus KTP di kelurahan saat mau berangkat turis ke sini. Sekarang, alhamdulillah usahaku sebagai penjual emas yang sukses di sini. Mumpung bertemu, wajarlah saya memberikan yang secuil ini sebagai ungkapan terima kasih,” cecar Pak Maun sambil tersenyum lantaran teringat masa silam.

Dengan wajah cemberut Bu Ijah diam seribu bahasa. Lalu, pergi tanpa pamit.* 

hasbi.salim@yahoo.co.id

Salam buat Sobat Bacco di Tanjung

   








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.